Prosatu.com – Disfunsi ereksi (DE) merupakan masalah seksual yang dialami oleh pria diseluruh dunia. Data survei yang dilakukan Harris Interactive menunjukkan, 59 persen laki-laki dengan ereksi sub-optimal merasa penanganan dengan konsumsi obat farmasi dapat membantu kekerasan ereksi. Disfungsi ereksi merupakan ketidakmampuan dalam mencapai dan mempertahankan ereksi yang optimal dalam melakukan hubungan seksual, namun orgasme belum tentu mengalami disfungsi ereksi.Hal ini menjadikan masalah bagi pasangan untuk mendapatkan kehidupan seksual yang sehat dan baik.
Dr. Nouval Shahab,Sp.U,PhD, salah satu dokter operator tindakan menangani penderita disfungsi ereksi di RS.Premier Jatinegara mengatakan penyebab disfungsi ereksi dapat dibadi menjadi tiga, yakni psikogenik,organik dan campuran antara psikogenik dan organik.
“Penyebab disfungsi ereksi ada tiga macam, yaitu disfungsi ereksi organik, disfungsi ereksi psikogenik, dan kombinasi keduanya. DE organik biasanya disebabkan oleh latar belakang penyakit, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan obat-obatan yang dikonsums,” ujar dr. Nouval Shahab dari RS.Premier Jatinegara, dalam acara bertajuk Penanganan Disfungsi Ereksi dengan Metode ESST di Sari Pan Pacific, Jakarta, Selasa (23/02/2016).
Dr. Nouval menambahkan dengan metode Extracorpirelal Shock Eaves For Sexual Therapy (ESST) ini merupakan salah satu penanganan disfungsi ereksi yang bertujuan memberbaiki peredaran darah yang masuk kedalam penis. Dengan Metode Terapi dilakukan di luar tubuh pasien tanpa melakukan pembedahan maupun pembiusan sehingga waktu penderita tidak terbuang dan dapat langsung melakukan aktivitas seperti biasanya karena terapi ini memakan waktu yang cukup singkat.
Metode EEST ini jauh lebih aman dan efektif bahkan tanpa sakit sekalipun dibandingkan menggunakan obat obatan. tentunya terapi memakan waktu 9 minggu di bandingkan obat yang begitu spontanitas saat itu juga.
Metode terapi EEST ini sangat di minati bagi pasien disfungai ereksi saat ini karena tingkat keberhasilannya metode ini sangat tinggi.
“Pentingnya memahami tingkat kepuasan seksual masing-masing pasangan, mengingat kepuasan seksual dapat memengaruhi kualitas hidup, di mana kondisi fisik dan nonfisik yang mendukung aktivitas sehari-hari,” pungkas dr. Nouval Shahab. (hdyt)
















