Buah Kelapa dapat Tingkatkan Sistem Imun Penderita HIV/AIDS

Buah Kelapa dapat Tingkatkan Sistem Imun Penderita HIV/AIDS

DSC_0154621577

Prosatu.com – Selama ini Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) masih dipandang sebagai penyakit yang paling mengerikan dan mematikan. Penyakit yang belum ada obatnya ini disebabkan oleh virus yang bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang masuk ke dalam tubuh manusia kemudian dengan cepat melumpuhkan sistem kekebalan manusia. Setelah sistem kekebalan tubuh lumpuh, seseorang penderita AIDS akan meninggal karena suatu penyakit.

Seseorang yang positif mengidap HIV pada awalnya belum tentu menderita AIDS. Banyak kasus seseorang positif mengidap HIV tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Salah satu sistem kekebalan tubuh yang diserang virus ini adalah sel darah putih termasuk limfosit yang disebut sel CD (Cluster of Differentiation). Hal ini mengakibatkan virus, jamur dan bakteri yang tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem kekebalan tubuh.

Seseorang yang diketahui mengidap HIV harus segera mendapatakan penangangan khusus dan pengobatan. Jika tidak secara progresif akan terjadi proses duplikasi atau reproduksi yang berlangsung di dalam sel darah putih. AIDS terjadi saat imunodefisiensi sekunder yang disebabkan oleh infeksi HIV, di mana kekurangan imunitas tubuh dapat dilihat dari kadar CD4 kurang dari 200.

Di tengah kengerian tersebut ditemukan fakta bahwa buah kelapa dapat mengembalikan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi virus HIV di dalam tubuh. Penelitian ini dilakukan oleh Dr.Conrado S.Dayrit pada tahun 2000 di Filipina. Kala itu dia melakukan terapi komplementer yang dapat diberikan pada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA).

Terapi itu dilakukan bermula dari pengalaman ODHA yang bernama Chris Dafoe memiliki prognosa sangat buruk dengan penurunan berat badan secara drastis, kondisi yang semakin buruk dari hari-kehari serta laporan hasil laboratorium menunjukan muatan virus HIV dalam tubuhnya mencapai lebih dari 600.000. Kondisi ini merupakan suatu kondisi infeksi HIV yang membuas.
Suatu saat tanpa sengaja penderita tersebut mengkonsumsi kelapa matang yang disajikan oleh orang Indian pada saat ia berlibur di rimba Amerika Selatan (Suriname). Dan hasil yang mencengangkan selama enam minggu mengkonsumsi kelapa matang sebagai sajian utama, penderita memiliki tubuh yang kembali segar dan kondisi virus turun drastis serta kembali pada kondisi yang stabil.

Berdasarkan pengalaman tersebut seorang Profesor Farmakologi tertarik untuk melakukan penelitian terkait terapi minyak kelapa murni/VCO (Virgin Coconut Oil) terhadap ODHA. Hasil penelitian menunjukan ODHA yang mengkonsumsi VCO atau makan kelapa sebanyak (setengah kelapa sehari) atau menambahkan kelapa untuk obat anti-HIV (anti protease/ARV) sebanyak 3,5 sendok setara dengan 50 mili liter selama enam bulan menunjukan CD4 dan CD8 normal dan stabil.

Selama ini banyak masyarakat beranggapan bahwa minyak kelapa merupakan suatu lemak atau kolesterol jahat yang dapat menyebabkan penyumbatan arteri dan menimbulkan berbagai macam penyakit seperti jantung, kolesterol dan lain sebagainya. Namun di sisi lain ternyata kandungan dalam minyak kelapa murni/VCO merupakan jenis lemak jenuh berantai sedang/medium-chain fatty acid (MCFA), seperti asam laurat (laurat acid), asam kaprilik (caprylic acid) dan asam kaprik (capric acid).

Di dalam tubuh ketiga asam tersebut akan langsung diserap dan dimetabolisme dalam hati untuk menghasilakan energi, dengan demikian lemak tidak tertimbun dan tidak menimbulkan kolesterol jahat. Sifat lain yang terpenting dari ketiga asam tersebut adalah potensi membunuh mikroba yang sel membrannya terdiri dari lapisan asam lemak tak jenuh rantai panjang/long-chain fatty acid (LCFA) dengan cara menghancurkan sel membrannya.

Hal itu membuktikan bahwa beberapa mikroba peka terhadap asam lemak rantai sedang (MCFA) yang terkandung dalam minyak kelapa yang dapat menjadi sejenis antibiotika. Dari kandungan VCO yang memiliki MCFA tersebut mampu menghancurkan membran virus dalam HIV yang memiliki LCFA.

Untuk obat bagi penderita AIDS hingga saat ini memang belum ditemukan. Namun dengan temuan tersebut setidaknya dapat dipergunakan sebagai terapi bagi pengidap HIV untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Bagi sebagian ODHA yang menjalani terapi ARV tidak ada salahnya juga mengkonsumsi buah kelapa, dalam bentuk bentuk degan, kelapa muda maupun tua, masih segar ataupun sudah dikeringkan. Kelapa juga dapat dikonsumsi dalam bentuk santan segar. Sebuah laporan juga menyebutkan setiap 50 gram buah kelapa kering setara dengan 20-25 gram asam laurat, yang potensial dan sangat dibutuhkan untuk melawan virus.

Perkembangan HIV/AIDS
Penularan HIV/AIDS sendiri dapat terjadi secara horisontal maupun vertikal. Penularan horisontal di antaranya disebabkan karena hubungan seksual dengan pengidap atau penderita HIV/AIDS, penggunaan jarum suntik yang bergantian, ataupun kontak kulit yang mengalami luka. Sementara penularan vertikal terjadi dari ibu ke bayi, pada saat transplasenta di dalam rahim atau menyususi. Penigkatan resiko penularan terjadi pada ibu HIV yang menyusui sebesar 30% sampai 50%.

Gejalan-gejala yang muncul pada kasus HIV/AIDS pada orang dewasa dan remaja, yang menimbulkan infeksi primer serta menyebabkan sindrom retroviral akut yang berkembang setelah masa inkubasi ditandai dengan kondisi demam, berat badan menurun, peradangan faring (faringitis) dan lain sebagainya. Pada anak atau transmisi vertikal gejala yang muncul seperti gagal tumbuh, keterlambatan perkembangan, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa), diare kronik atau berulang, pneumonia interstisial (batuk atau sesak pada anak disertai tanda bahaya seperti penurunan kesadaran, tidak dapat minum atau menyusu, muntah, dan adanya kejang selama episode sakit sekarang), oral thrush (lapisan putih kekuningan di atas mukosa yang normal atau kemerahan, bercak merah dilidah, langit-langit mulut, tepi mulut disertai rasa nyeri yang tidak beraksi terhadap pengobatan anti jamur).

Periode inkubasi setelah transmisi horizontal yang umumnya 7 sampai 10 tahun. Namun inkubasi transmisi vertikal dapat lebih cepat antara 1 hingga 24 bulan, dan dapat berkembangnya menjadi AIDS hanya dalam 5 bulan.

ODHA yang menjalani test CD4 untuk mengukur tingkat kesehatan penderita HIV/AIDS, dengan standar nilai batas normal 400-1400. Jika di bawah 400 maka ODHA dinyatakan tidak sehat karena virus HIV aktif menyerang.

Berapa jumlah pengidap dan penderita HIV/AIDS saat ini, program HIV/AIDS PBB, United Nations Joint Program on HIV atau AIDS (UNAIDS) mengatakan angka kematian penyakit ini pada tahun 2011 sebanyak 1,7 juta kematian, tertinggi terjadi pada tahun 2005 yang mencapai 2,3 juta kematian, dan tahun 2010 yang tercatat sebanyak 1,8 juta. Data WHO terbaru juga menunjukan peningkatan jumlah pengidap HIV yang mendapatkan pengobatan di tahun 2012 tercatat 9,7 juta orang. Angka ini meningkat 300.000 orang lebih banyak dibandingkan satu dekade sebelumnya.

Penulis Suhaila Aro’fah