Prosatu. com Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meresmikan lokasi sementara –biasa disingkat loksem bubur di kawasan Jalan Barito, Jakarta Selatan, yang baru direvitalisasi. Tempat itu dibangun menggunakan dana corporate social responsibility dari Teh Pucuk Harum PT Mayora Indah.
“Dengan adanya loksem seperti ini tentunya mereka bisa berdagang dengan aman,” kata Djarot saat memberi sambutan di loksem bubur Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 1 Maret 2017.
Djarot berharap lokasi sementara itu ditata sebagus mungkin dan pedagang terus meningkatkan kualitas makanannya. Ia ingin tempat berjualan bubur Barito menjadi tujuan wisata kuliner di Jakarta Selatan. Apalagi Jakarta Selatan memiliki 72 loksem dan angka ini adalah yang terbanyak dibanding wilayah lain.
Wakil Gubernur DKI itu mengaku senang dengan makin bertambahnya pedagang yang masuk loksem dan terdata. Sebab, kata dia, masih ada sekitar 62 ribu pedagang kaki lima yang belum tertata. Sedangkan kaki lima yang sudah masuk loksem baru sekitar 27 ribu pedagang.
Salah satu pedagang yang menempati loksem tersebut adalah Nasi Bakar dan Surabi khas Bandung yang di kelola Rike Lusiana wanita asal Jawa Timur yang hijrah ke Jakarta sejak tahun 1980.
Usaha Rike Lusiana kini sudah di kenal oleh para pecinta kuliner dengan Surabi Bandung yang rasanya ada yang asin dan manis ini akan tetap berasa gurih, renyah dan sangat lembut ketika dikunyah di dalam mulut, dan akan memberikan sensasi yang berbeda dengan berbagai makanan ringan lainnya
Namun usaha Rike tak hanya sampai pada makanan khas bandung saja tetapi makanan Nasi bakar Situbondo yang cukup banyak di buru penjaja kuliner di Jakarta.
Djarot yang mampir ke loksem Surabi dan Nasi Bakar Rike Lusi sangat senang dengan banyaknya aneka jajanan yang di sediakan.
“Saya sangat senang mencicipi makanan kaki lima seperti ini, dan ini merupakan hoby saya,” ujar Djarot
Djarot juga telah meminta Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah DKI dan Pemerintah Kota menggandeng perusahaan swasta untuk menata kaki lima di Jakarta.
“Jangan rugi bantu masyarakat kecil. Tidak akan rugi. Lebih baik bikin sebanyak-banyaknya,” ujarnya.
Djarot juga meminta agar lahan kosong dimanfaatkan untuk menampung kaki lima. Dengan memberikan tempat bagi pedagang makanan, ia melanjutkan, bisa memunculkan potensi wisata kuliner yang banyak dicari orang. Selain itu, pedagang di loksem hanya perlu membayar retribusi sebesar Rp 3.000 per hari. “Kalau liar, premannya yang mahal. Saya minta tolong Pak Irwansyah cari lokasi lain, kita cari sebanyak mungkin agar PKL tertampung,” katanya. (hdt/ps)















