PROSATU – Film horor komedi Dukun Magang menawarkan perpaduan unsur mistis dan humor yang dibangun melalui improvisasi para pemain selama proses produksi. Sutradara Chiska Doppert mengatakan banyak adegan komedi dalam film tersebut lahir secara spontan di lokasi syuting.
“Para pemain sangat fleksibel dan natural. Banyak momen lucu yang muncul begitu saja saat proses syuting berlangsung,” kata Chiska dalam gala premiere Dukun Magang di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu, 13 Juni 2026.
Menurut dia, interaksi para pemain kerap berkembang di luar naskah yang telah disiapkan. Bahkan, tim produksi beberapa kali kesulitan mengakhiri adegan karena improvisasi yang terus berlanjut.
Film produksi Wahana Pictures dan Dance Vision itu mengisahkan Raka, seorang mahasiswa yang berusaha menyelesaikan skripsinya melalui cara tak biasa, yakni magang sebagai dukun. Karakter tersebut diperankan oleh Jefan Nathanio.
Jefan mengaku memiliki kemiripan dengan karakter Raka yang rasional dan skeptis. Menurut dia, tantangan utama dalam memerankan tokoh tersebut adalah menjaga sisi logis di tengah berbagai peristiwa gaib yang dialami karakternya.
“Yang paling penting bagi saya adalah menjaga rasa skeptis Raka di sepanjang cerita,” ujar Jefan.
Ia juga menyebut adegan di sungai menjadi salah satu tantangan terbesar selama syuting karena membutuhkan persiapan dan tenaga ekstra dari pemain maupun kru.
Sementara itu, Hana Saraswati yang memerankan Sekar mengungkapkan tantangan terbesarnya adalah menampilkan karakter yang lebih muda sesuai kebutuhan cerita. Sekar digambarkan sebagai sahabat dekat Raka yang selalu membantu menyelesaikan kuliahnya.
Selain itu, Hana menyoroti salah satu elemen unik dalam film tersebut, yakni penggambaran kuntilanak berdasarkan tingkatan kekuatan yang dibedakan melalui warna.
“Untuk kuntilanak, memang selama ini yang kita tahu bentuknya bergaun putih, rambut panjang, dan sering dikaitkan dengan pohon. Namun di film ini ada tingkatan kekuatan berdasarkan warna,” kata Hana Saraswati.
Menurut Hana, kuntilanak hitam digambarkan sebagai sosok dengan kekuatan tertinggi. Di bawahnya terdapat kuntilanak merah, sedangkan kuntilanak putih merupakan sosok yang paling umum dikenal masyarakat.
Aktor Fajar Nugra yang memerankan Boiman mengaku tertarik bergabung dalam proyek tersebut karena kekuatan cerita yang mampu memadukan horor dan komedi secara seimbang. Ia menilai kehadiran konsultan komedi selama proses produksi turut memperkuat kualitas humor dalam film.
Di sisi lain, sejumlah pemain harus menghadapi tantangan penggunaan dialek Jawa. Mang Osa yang memerankan Karno mengaku mempelajari pelafalan dan intonasi bahasa Jawa secara intensif demi mendalami karakter seorang dukun.
Tantangan serupa dialami Adi Sudirja yang memerankan Mbah Djambrong. Aktor asal Medan itu harus beradaptasi dengan dialek Jawa sekaligus menjalani adegan fisik yang cukup berat, termasuk adegan menahan napas di sungai.
Produser film mengatakan ide cerita Dukun Magang berawal dari keinginan menghadirkan konsep baru dalam genre horor komedi Indonesia. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan bersama tim penulis dan diperkuat oleh keterlibatan konsultan komedi.
Film yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026 itu menargetkan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Para pemain dan produser berharap Dukun Magang mampu menembus angka satu juta penonton.
“Kami berharap penonton ikut merekomendasikan film ini kepada keluarga, teman, dan orang-orang terdekat agar semakin banyak yang menikmati Dukun Magang di bioskop,” kata produser.
















