Prosatu.com Jakarta — SMART 171 memperingati satu dekade perjalanannya melalui acara publik bertajuk “Satu Dekade Merawat Solidaritas, Menjaga Pergerakan” di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Sabtu (10/5). Kegiatan ini menghadirkan rangkaian edukasi publik mulai dari talkshow, monolog, pameran instalasi, hingga peluncuran buku tentang Palestina.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdulfatah Al-Sattari, turut hadir memberikan sambutan. Dalam pidatonya, ia mengaku tidak merasa asing berada di tengah masyarakat Indonesia maupun dalam kegiatan SMART 171.
“Saya merasa seperti berada di rumah sendiri. Terima kasih atas segala yang dilakukan bangsa Indonesia untuk Palestina,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapan atas kemerdekaan Palestina di masa mendatang.
“Tak lama lagi, kita akan salat berjamaah di Masjid Aqsa yang merdeka. Setelahnya, kita ke rumah saya di Gaza yang akan berdiri lagi setelah dihancurkan Israel,” katanya.
Direktur SMART 171, Maimon Herawati, yang saat ini masih menjadi steering committee Global Sumud Flotilla di luar negeri, menyapa peserta melalui tayangan video.
Sementara itu, Manajer Campaign SMART 171 sekaligus influencer muda, Farah Qoonita, mengajak publik untuk terus menjaga dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Dalam sesi monolog, Dian Chairunisa membahas cara kerja propaganda Hasbara dalam membentuk opini publik. Pembahasan tersebut dilanjutkan oleh Fidela Rudiana yang menyoroti peran gerakan organik anak muda sebagai penyeimbang narasi dominan di media sosial.
Ia menjelaskan, komunitas Baik Berisik lahir dari keresahan generasi muda yang ingin menyuarakan solidaritas terhadap Palestina melalui pendekatan kreatif dan inklusif. Kini, gerakan tersebut disebut telah hadir di lebih dari 20 titik di Indonesia.
Acara turut dimeriahkan oleh penampilan Bella Fawzi yang membawakan lagu Tanah Para Nabi. Dalam sesi diskusi yang dipandu Sarah Widad, Bella berbincang bersama Riska Rahman dari Greenpeace Indonesia serta Selvia Sri Rahayu mengenai dampak kerusakan lingkungan akibat konflik di Palestina dan peran gerakan akar rumput di media sosial.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian pengunjung adalah pameran bertajuk 12 Pilar Zionis yang dikemas dalam bentuk infografis setinggi dua meter. Pameran tersebut juga menampilkan miniatur kehancuran Gaza dan sejumlah instalasi visual lain, seperti diorama bendera Israel terbakar, guillotine simbolik untuk buronan ICC, serta papan instalasi yang menggambarkan memburuknya hubungan Israel dengan masyarakat dunia.
Pameran itu dirancang sebagai ruang edukasi interaktif yang dapat dinikmati pengunjung lintas usia.
Dalam momentum satu dekade ini, SMART 171 juga meluncurkan buku Understanding Palestine A-Z: Faith, History, and Resistance. Peluncuran buku tersebut menjadi puncak dari rangkaian program edukasi di 100 titik di berbagai wilayah Indonesia sepanjang tahun ini.
Buku itu diharapkan dapat menjadi rujukan komprehensif bagi masyarakat yang ingin memahami isu Palestina dari sisi sejarah, keimanan, hingga dinamika perjuangan rakyatnya.
Selama 10 tahun terakhir, SMART 171 dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan dan edukasi Palestina, mulai dari penyaluran bantuan langsung di Gaza dan Lebanon hingga pembangunan gerakan edukasi publik melalui kelas, riset, media, komunitas pemuda, dan kampanye digital.
















