Prosatu.com – Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (7/9) sore, melemah 53 poin menjadi Rp 14.225 per dolar AS dibandingkan dengan posisi sebelumnya Rp 14.172 per dolar AS. Kurs rupiah melanjutkan pelemahan seiring dengan investor yang masih enggan untuk masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Indonesia dinilai masih memiliki kendala dalam dalam penyerapan anggaran belanja untuk infrastruktur.
Selain itu, serapan anggaran belanja pemerintah yang masih minim akan menghambat pertumbuhan perekonomian di dalam negeri untuk bergerak cepat. Di sisi lain, pelaku pasar juga masih bersikapwait and see terhadap pengumumnn data neraca perdagangan Indonesia periode Agustus yang sedianya akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada pertengahan bulan ini.
Laju rupiah masih berpotensi terus mengalami pelemahan meski telah berada di area level batas bawah penurunan, belum terlihat sentimen baru yang membuat momentum pembalikan arah ke area positif. Menguatnya harapan the Fed akan menaikan suku bunga pada pertemuan bulan ini menyusul adanya penambahan jumlah tenaga kerja serta upah rata-rata per jam yang naik di Amerika Serikat (AS) mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed di tahun ini sehingga mendorong dolar AS kembali terapresiasi terhadap rupiah.
Sektor tenaga kerja AS di bulan Agustus masih memberikan laporan yang cukup memuaskan dan mendukung prospek kenaikan suku bunga AS di tahun ini. Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Senin (7/9) mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah menjadi Rp 14.234 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 14.178 per dolar AS. (bzn/ps)
















