Prosatu.com Jakarta – Masalah PT.Freeport yang tak lepas dari PT. Smelting, Gresik Jawa Timur masih berkecamuk. PT. Smellting yang merupakan pabrik peleburan hasil tambang PT. Freeport yang sahamnya 75% dikuasai oleh Mitsubishi Jepang dan 25% merupakan milik PT. Freeport. Bahkan dalam satu tahunnya PT. Smelting mengelola lebih dari 1 juta ton hasil tambang PT. Freeport.
PT tersebut bahkan dalam satu tahunnya menghasilkan berupa tembaga lebih dari 300 ribu ton dengan kemurnian 99,9%. Tetapi sayangnya produk yang dihasilkan belum mampu mencukupi kebutuhan tembaga baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Anehnya lagi, menurut Presiden KSPI Said Iqbal, Selasa (4/4) di Jakarta mengatakan “Konflik ini merupakan antara pekerja dengan pengusaha PT. Smelting yang melakukan pelanggaran terhadap perjanjian dan perundangan RI serta PHK yang secara sepihak kepada 309 pekerja tetap yang sudah bekerja selama lebih dari 10 tahun.”
Dengan tidak beroperasinya PT. Smelting ini mempengaruhi terhadap pasokan tembaga di dalam negeri.
“Hal ini dapat menyebabkan harga tembaga melonjak naik saat ini dan dapat mempengaruhi pertumbuhan pasar kabel di Indonesia serta dapat terganggunya proyek pemerintah untuk pembangkit 35.000 MW,” lanjutnya.
Di sisi lain saat ini sejak terjadinya konflik tersebut, saham mitsubishi Materials Corp. mulai turun sampai 20% pada bulan maret.
Lebih lanjut, Iqbal menambahkan bahwa sampai saat ini upaya sudah dilakukan oleh Serikat Pekerja FSPMI PT. Smelting untuk memperjuangkan 309 pekerja yang diPHK secara sepihak.
Di sisi lain, Zaenal Arifin selaku ketua erikat Pekerja FSPMI PT. Smelting, pemerintah harus turun tangan dalam menangani masalah ini.
“Pengusaha PT. Smelting telah melanggar perjanjian dan perundangan RI, maka sudah sepantasnya pemerintah menindak tegas pengusaha PT.Smelting. Bahkan menurut kami akan lebih baik jika PT. Smelting dapat diambil alih menjadi perusahaan milik negara dan tentunya sebagai rakyat kami akan mendukung penuh karena kami juga memiliki Sumber daya dan data yang dibutuhkan oleh pemerintah terkait dengan satu-satunya smelter yang ada di Indonesia.” Ujar Zaenal
















