Properti Jakarta Bangkit, Masuki Fase Pertumbuhan Berkelanjutan di 2026

Properti Jakarta Bangkit, Masuki Fase Pertumbuhan Berkelanjutan di 2026

Prosatu.com Jakarta – Pasar properti di Jakarta menunjukkan tren pemulihan yang semakin solid pada kuartal pertama 2026. Kondisi ini menandai peralihan menuju fase pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, didukung oleh peningkatan kualitas permintaan serta pasokan yang lebih terkendali di berbagai sektor utama.

Berdasarkan riset terbaru CBRE Indonesia, sektor perkantoran, industri/logistik, dan ritel menjadi pendorong utama pemulihan. Stabilitas makroekonomi nasional juga turut memperkuat fondasi pertumbuhan, menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi investor maupun pelaku usaha.

Managing Director CBRE Advisory Indonesia, Angela Wibawa, menyatakan bahwa siklus pemulihan kali ini memiliki karakteristik yang lebih sehat dibandingkan periode sebelumnya. Ia menekankan bahwa pasar kini tidak lagi didorong oleh aktivitas spekulatif, melainkan oleh kebutuhan nyata dari pengguna.

“Pasar properti saat ini lebih didasarkan pada permintaan riil dari penyewa dan end-user, bukan spekulasi. Hal ini menciptakan kondisi yang lebih stabil dan dapat diprediksi, sehingga meningkatkan kepercayaan dalam pengambilan keputusan jangka panjang,” ujarnya dalam acara Media Briefing CBRE Indonesia.

Dari sisi makroekonomi, Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil menjadi faktor kunci dalam menopang kinerja sektor properti. Produk Domestik Bruto (PDB) yang tumbuh di kisaran 5,0 persen dinilai cukup kuat untuk menjaga momentum pemulihan.

Selain itu, realisasi investasi pada kuartal pertama 2026 yang mendekati Rp500 triliun juga menjadi indikator positif. Investasi tersebut didominasi oleh sektor industri hilir, jasa, serta pertambangan, yang berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas ekonomi secara luas.

“Pertumbuhan saat ini ditopang oleh penyerapan riil, bukan spekulasi. Ini penting karena mampu menekan risiko kerugian dan pada saat yang sama mendorong imbal hasil yang lebih berkelanjutan di berbagai sektor properti,” jelas Anton.

Di sektor perkantoran, perbaikan kinerja mulai terlihat lebih nyata pada awal tahun. Co-Heads of Office Services CBRE Indonesia, Judy Sinurat dan Albert Dwiyanto, mengungkapkan bahwa tidak adanya tambahan pasokan gedung baru di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta turut membantu meningkatkan tingkat hunian.

Sepanjang kuartal pertama 2026, tingkat penyerapan ruang kantor tercatat mencapai sekitar 21.300 meter persegi. Angka tersebut mendorong tingkat hunian naik menjadi 76,1 persen.

Permintaan ruang kantor saat ini juga mengalami pergeseran, dengan fokus yang lebih kuat pada gedung Premium Grade dan Grade A. Tren ini didorong oleh sejumlah faktor, termasuk relokasi perusahaan, strategi efisiensi ruang (right-sizing), serta meningkatnya kebutuhan akan bangunan berkualitas tinggi yang mendukung efisiensi energi dan keberlanjutan.

Secara keseluruhan, CBRE menilai bahwa arah pemulihan pasar properti Jakarta semakin menunjukkan fondasi yang kuat. Dengan kombinasi antara permintaan yang lebih berkualitas, pasokan yang terkendali, serta stabilitas ekonomi, sektor properti diperkirakan akan terus bergerak positif dalam jangka menengah hingga panjang.