Ketidakseimbangan Produksi Membuat Harga Daging Naik

Ketidakseimbangan Produksi Membuat Harga Daging Naik

images(2)

Prosatu.com Jakarta – Anggota DPR Komisi IV Rofi Munawar melihat kelangkaan daging sapi yang terjadi saat ini di Jakarta dan Jawa Barat karena adanya ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan konsumen. Situasi ini akan terus menjadi jeratan alamiah tahunan, sepanjang produksi daging sapi lokal tidak maksimal maka importasi menjadi satu-satunya jawaban untuk mestabilitkan tata niaga daging sapi nasional.

“Ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan berdampak terhadap kenaikan harga daging sapi di pasaran, pada umumnya kenaikan tersebut sulit untuk turun kembali kecuali adanya intervensi kebijakan reaksioner seperti importasi dan pelepasan stok. Oleh karena itu, kelangkaan dan mahalnya daging sapi akan terus berlangsung, selama perubahan harga yang cepat tidak diimbangi dengan perubahan pada sisi produksi,” ungkap Rofi Munawar di Jakarta, Rabu (12/8/2015)

Rofi menambahkan, secara umum berdasarkan observasi terjadi kelangkaan populasi ternak sapi lokal yang sangat mengkhawatirkan, situasi ini dipertegas pada daerah sentra konsumsi, peran sapi dan daging impor untuk memenuhi permintaan konsumen semakin meningkat. Tentu tidak mengherankan akibat rendahnya kuota impor berpengaruh langsung terhadp kelangkaan dan mahalnya daging sapi di Jakarta dan Jawa Barat, karena di daerah ini lebih banyak di dominasi oleh daging impor.

“Sebaiknya pemerintah mendorong secara serius perbaikan infrastruktur logistik dan manajemen stok nasional terkait daging sapi, agar proses distribusi dari berbagai sentra produksi nasional bisa berjalan efisien ke pusat-pusat konsumsi nasional. Jika ini terjadi bukan hanya konsumen yang diuntungkan harga yang terjangkau, namun juga peternak nasional karena mendapatkan keuntungan yang maksimal,” pungkasnya.

Saat ini industri daging sapi di Indonesia mengalami masalah yang sangat kritis. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya harga daging sapi dan permintaan daging sapi, ironisnya disisi lain menurunnya persediaan daging sapi, serta meningkatnya persaingan karena adanya kompetisi dari daging impor. Ketika stok persediaan berkurang atau tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat harga daging sapi ini semakin meningkat. Selain itu, kebijakan untuk melakukan impor daging sapi tidak menguntungkan peternak sapi lokal

“Tekanan untuk melakukan impor memang pada akhirnya menjadi satu-satunya jalan bagi pemerintah untuk menstabilisakan harga daging sapi di pasaran, namun di sisi lain sesungguhnya semakin menunjukan ketidakberdayaan pemerintah dalam mengatur tata niaga daging sapi nasional,” tegasnya.

Sebagai informasi, sejak hari ahad aksi mogok jualan dilakukan oleh para pedagang sapi, karena frustasi akibat merosotnya penjualan daging akibat meroketnya harga daging sapi pasca Lebaran. Harga daging sapi saat ini masih dijual seharga Rp 120.000/kg, atau naik sejak sebelum Lebaran lalu yang masih dibanderol seharga Rp 110.000/kg. Sementara harga karkas (daging dan tulang) yang dijual di rumah jagal sudah mencapai Rp 94.000/kg. Sementara, sebelum Lebaran karkas masih dipatok seharga Rp 86.000/kg, dan saat normal sebesar Rp 80.000/kg. (we/ps)