Indonesia Dari Catatan Masa Lalu

Indonesia Dari Catatan Masa Lalu

Prosatu.com Jakarta – Dari Catatan Seorang Jurnalis

Nama Indonesia muncul dan diperkenalkan James Richardson Logan (1819-1869) tahun 1850 dalam Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia. Hal itu diungkapkan oleh sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey. Pramoedya Ananta Toer dalam buku Sedjarah Modern Indonesia memperkuat pendapat ini. Ia juga menyebut nama Logan sebagai pencetus pertama istilah Indonesia. Pramoedya melihat James Richardson Logan sebagai etnolog yang mencetuskan istilah Indonesia.

Sebenarnya ada dua orang yang terlibat mencetuskan nama Indonesia. Pertama adalah George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan. Earl adalah orang yang menulis sebuah artikel dalam jurnal “The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia” Vol. IV pada 1850. Di halaman 71 jurnal itu dia menulis “the Malayunesian branch of this race”. Di bawah halaman ditambahkan oleh dia catatan yang menjelaskan istilah itu. Dia mengusulkan nama baru bagi penduduk kepulauan Hindia dengan nama “Indu-nesians” atau “Malayu-nesians”. Earl sendiri lebih suka dengan istilah yang kedua karena menurutnya istilah itu lebih memberikan penghargaan pada orang-orang Melayu yang telah menjelajah seluruh kepulauan sebelum orang-orang Eropa. Sementara James Richardson Logan berpendapat sedikit berbeda. Dia yang menjadi kepala redaksi majalah itu, yang juga junior Earl saat masih kuliah, lebih suka dengan istilah Indonesia yang lebih praktis dibandingkan istilah panjangnya Indian Archipelago. Dia lebih memilih “Indonesia” sebuah istilah geografi untuk membedakan dengan wilayah kepulauan ini dengan wilayah lain dan menyebut penduduknya menjadi orang-orang Indonesia.

Dari Catatan Seorang Pujangga


Dalam buku Pendidikan Pancasila (Membangun Karakter Bangsa) (2019) karya Yuni Susanti Pratiwi, pada masa zaman keemasan Kerajaan Majapahit, telah ada nama bagi wilayah kepulauan yang merupakan nama tanah air bangsa Indonesia sekarang ini. Nama Nusantara diberikan oleh pujangga Kerajaan Majapahit, yang wilayahnya terletak di sekitar Khatulistiwa berada antara Samudera Pasific dan Samudera Hindia, di antara Benua Asia dan Benua Australia. Wilayah Nusantara terdiri dari ribuan pulau yang tersebar. Pada masa Kerajaan Majapahit, wilayahnya meliputi seluruh Nusantara dengan politik luar negarinya bersemboyan “Mitreja Satata” yang artinya persahabatan dengan tetangga. Hal itu dikuatkan dan tercatat dalam buku Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Majapahit dengan Mahapatih Gajah Mada yang terkenal dapat mempersatukan seluruh Nusantara berkat “Sumpah Palapa” yang memiliki arti kesatuan dan persatuan. Majapahit mempersatukan kembali seluruh Nusantara yang terpecah-pecah kurang lebih tiga abad dari tahun 1293 hingga 1520.

Dari Catatan Penjelajah Eropa


Nama Hindia diberikan oleh orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia. Nama Hindia semula diberikan oleh penjelajah asal Portugis bernama Vasco da Gama pada abad ke 15 yang menemukan kepulauan Indonesia. Vasco da Gama memungut nama Hindia dari Herodotus, ahli sejarah asal Yunani. Ia menemukan gugusan kepulauan dalam ekspedinya mencari rute langsung dari Eropa ke Malabar, India. Kemudian gugusan kepulauan tersebut diberi nama Hindia. Nama Hindia menyesuaikan letaknya yang berada di perbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Dari Catatan Penjajah Belanda

Dalam buku Ensiklopedi Umum (1991) karya Pronggodigdo, saat Indonesia berada dikuasai oleh negara Belanda, kemudian mengubah nama menjadi Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) atau Nederlandsch Oost-Indie (Hindia Timur Belanda). Bangsa Belanda datang ke Indonesia pada 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Pada masa penjajahan tersebut, seluruh orang-orang Eropa menyebut Indonesia sebagai Nederlandsch Oost-Indie.

Dari Catatan Pemberontak


Nama Insulinde diberikan oleh Eduard Douwes Dekker lewat bukunya Max Havelaar pada 1860. Douwes Dekker yang memiliki nama Multatuli mengusulkan nama Insulinde karena merasa jijik mendengar nama Nederlandsch Indie diberikan Belanda. Karena Belanda telah melakukan perlakuan buruk terhadap rakyat negara jajahannya. Ia juga sering mengkritik perlakuan buruk penjajah Belanda dengan menyebut nama Insulinde berasal dari kata “Insula” yang dalam bahasa Latin memiliki arti kepulauan. Insulinde memiliki arti Kepulauan Hindia sebagai pengganti sebutan Nederlandsch Oost-Indie dan stigma negeri jajahan.

Dari Catatan Ahli Biogeografi

The Malay Archipelago dipopulerkan oleh Alfred Russel Wallace yang merupakan seorang penjelajah asal Inggris pada 1869. Malay Archipelago berati Kepulauan Malayu, yang memiliki makna pulau-pulau Malayu yang menguasai lautan. Wilayah yang masuk dalam Malay Archipelago, yakni Singapura, Malaysia, dan Kepulauan Indonesia.

Dari Catatan Seorang Apoteker


Tome Pires adalah seorang apoteker pribadi Pangeran Alfonso, putera raja Manuel, pemegang tahta kerajaan Portugis. Ia dikirim ke Malaka untuk menjadi akuntan, penyunting dan juru tulis di koloni Portugis itu. Ia dianggap berjasa bagi sejarah dunia, termasuk sejarah Nusantara abad XVI. Ia telah mencatat secara cermat dalam jurnal berjudul Suma Oriental. Jurnal tersebut ditulis di India dan Malaka tahun 1512-1515 mengenai dunia timur yang ia kunjungi, mulai dari Laut Merah di Asia Tengah hingga ke Jepang. Di nusantara, Pires mengunjungi Camotora (Sumatera), Cumda (Sunda), dan Jawa.

Para ahli keheranan, mengapa catatan penting yang dibuat awal abad XVI ini bisa luput dari perhatian umum, tersembunyi begitu lama di Perpustakaan Dewan Perwakilan Rakyat Perancis (Bibliotheque d ela Chambre des Deputes). Catatan ini baru ditemukan kembali oleh Armando Cortesao pada tahun 1937 dan disunting untuk diterbitkan oleh Hakluyt Society London tahun 1944, atau berselang 400 tahun kemudian.

Tentang pulau Jawa Tome Pires menulis, sebagai salah satu orang Portugis yang mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa selang tahun 1512 dan 1515, menggambarkan bahwa pelabuhan Sunda Kalapa ramai disinggahi pedagang-pedagang dan pelaut dari luar seperti dari Sumatra, Malaka, Sulawesi Selatan, Jawa dan Madura. Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tanara dan Cimanuk. Menurut laporannya, di Sunda Kelapa banyak diperdagangkan lada, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buah-buahan.

Dari Catatan Seorang Budak


Ferdinand Magellan seorang penjelajah Portugis dianggap sebagai pengeliling dunia pertama kali oleh bangsa Eropa. Pria dengan nama Portugis Ferrao de Magelhaes itu melakukan perjalanan ekspedisinya keliling dunia pada tahun 1519. Namun penghargaan sebagai pengeliling dunia pertama kali dibantah oleh beberapa fakta sejarah. Beberapa fakta tersebut mengatakan bahwa seorang pria berasal dari bangsa Indonesia, yaitu Enrique de Malacca.

Setelah berlayar ke beberapa samudra, Magellan beserta awak mengarungi samudra pasifik atau Mar Pacifico. Kemudian pada tanggal 16 Maret 1521 Magellan dan awaknya tiba di Filipina. Namun pada tanggal 27 Maret, Magellan terlibat perang dengan penduduk setempat sampai ia akhirnya tewas dibantai. Pada kenyataannya Megellan meninggal di perjalanan dan tidak kembali pulang ke Spanyol. Beberapa fakta sejarah menyebutkan bahwa pengeliling bumi pertama lebih pantas dinobatkan kepada seorang pria berasal dari Indonesia bernama Enrique de Malacca. Enrique adalah seorang budak yang ditemukan Magellan ketika menaklukkan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511. Kemudian budak tersebut dijadikan asisten kepercayaan oleh Magellan.

Dalam bukunya Helmy Yahya dan Reinhard R. Tawas yang berjudul Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia – Enrrique Maluku. Buku tersebut menjadi salah satu bukti ilmiah yang menceritakan kisah perjalanan Enrique yang mengelilingi bumi. Selain menguasai bahasa melayu, Enrique juga menguasai beberapa bahasa seperti Inggris, Spanyol, Portugis dan beberapa bahasa internasional lainnya, sehingga ia dijadikan sebagai penerjemah.
Dalam ekspedisi pelayaran Magellan, Enrique dipercaya sebagai penerjemah Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu memang merupakan alat komunikasi Magellan dan awaknya dengan masyarakat di Asia Tenggara, dimana menjadi tujuan pelayaran tersebut adalah “Kepulauan Rempah-Rempah”.

Pada wasiat sebelum Magellan meninggal, ia menuliskan bahwa Enrique harus dimerdekakan dari statusnya yang budak. Namum para petinggi perwira Spanyol tidak mau memerdekakannya. Sehingga Enrique kecewa dan melarikan diri. Ia mendapat perlindungan dari Raja Homabon di Cebu, Filipina.

Dari Catatan Seorang Ilmuwan Buta


Georg Eberhard Rumpf (Wetteraukreis, Hessen 1627 – Ambon, 15 Juni 1702) adalah seorang ahli botani asal Jerman yang bekerja untuk VOC di Hindia Belanda. Ia ilmuwan dengan magnum opus berjudul Herbarium Amboinense. Bermula terpesona dengan cerita tentang Maluku sebagai penghasil rempah-rempah, Rumpf mendaftarkan diri sebagai tentara VOC dan keinginannya terwujud pada tahun 1653, saat armada VOC merapat di Ambon.
Rumpf tidak lama jadi tentara sebab panggilan jiwanya bukan sebagai militer. Ia meminta dipindahkan ke bagian sipil dan disetujui. Pada tahun 1656 Rumpf diangkat sebagai makelar dagang VOC di Larike, sebuah dusun terpencil di Semenanjung Hitu, pantai utara Ambon. Pada tahun 1660, ia pindah ke Hila. Alih-alih memperkaya diri atau VOC, Rumpf mencurahkan perhatiannya pada alam hayati pulau Ambon. Ia menikahi gadis Ambon dan mulai mempelajari semua tanaman yang ditemuinya. Rumpf mempunyai ambisi ingin membukukan semua flora yang ada di Pulau Ambon.

Sampai tahun 1670, atau sekitar sepuluh tahun setelah Rumpf mempelajari tanaman-tanaman Ambon, ia mulai banyak mengadakan kontak dengan sejumlah sarjana dari Eropa. Sejak itu namanya lebih terkenal sebagai “Rumphius” sesuai selera ilmu pengetahuan pada zaman renaisans, yang gandrung pada nama Latin atau Yunani. Tetapi pada tahun itu juga, penglihatan Rumphius mulai kabur akibat glaukoma yang tak bisa disembuhkan. Akhirnya ia mengalami kebutaan total. Ia dan keluarganya pindah dari Hila ke Ambon.
Usaha Rumphius tetap mendapat dukungan penuh dari Batavia, ia tetap digaji, bahkan diberi sekretaris dan juru gambar. Sementara itu, istri dan anaknya tetap membantu Rumphius sepenuh waktu untuk meneruskan karyanya yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun itu. Setelah buta bahkan Rumphius menambah pengamatannya akan semua jenis kerang yang ada di perairan Ambon. Ia tetap mendengarkan cerita-cerita penduduk tentang kerang-kerang itu, lalu mendiktekan kepada anaknya atau juru tulisnya untuk menuliskannya. Ia meraba, mencium, dan mendengar – itulah cara untuk mendeskripsikannya. Gempa dahsyat melanda Ambon pada tanggal 17 Februari 1674, menewaskan orang-orang yang paling dicintainya, isteri dan anaknya.

Meskipun demikian, dalam tahun itu juga, Rumphius berhasil menerbitkan buku pertamanya berjudul Sejarah dan Geografi Pulau Ambon. Sayang, buku ini tetap terkunci rapat di kantor VOC di Ambon, sebab VOC takut bila buku ini tersebar akan menguntungkan pesaing-pesaing VOC. Di kemudian hari, setelah Rumphius tiada, buku ini ditemukan seorang pendeta bernama François Valentijn dan menerbitkannya atas namanya sendiri. Pada tanggal 11 Januari 1687, bencana kebakaran melanda kota Ambon. Api menghanguskan gambar-gambar tumbuhan, konsep naskah tentang kerang, dan juga koleksi tumbuhan dan kerang yang lebih dari 15 tahun dikumpulkan. Untung, naskah tentang tumbuhan Ambon bisa diselamatkan. VOC tetap mendukung Rumphius dengan menugaskan juru tulis dan juru gambar untuk menulis dan menggambar ulang semua dokumen yang telah hangus terbakar.

Tahun 1690 mahakarya Rumphius pun selesai, dua belas jilid banyaknya, sebuah karya raksasa yang disusun selama lebih dari 20 tahun dengan berbagai suka dan duka. Rumphius mengirimkan karyanya kepada Gubernur Jenderal VOC di Batavia. Karyanya baru diteruskan ke Belanda pada tahun 1697 setelah selama 7 tahun disalin di Batavia oleh Gubernur Jenderal Johannes Camphuys, seorang pencinta alam Indonesia. Sayangnya, karya Rumphius ini tersimpan selama 44 tahun di arsip VOC di Belanda dengan alasan keamanan. Maka, tersusullah karya Rumphius ini oleh Systema Naturae karya Carolus Linnaeus, biolog Swedia, yang menerbitkan karyanya pada tahun 1740 dan memperkenalkan tatanama binomial. Padahal, Rumphius dari Ambon telah menemukan sistem penamaan itu 50 tahun lebih awal. Pada tahun 1699, Rumphius masih mengeluarkan sebuah buku berjudul Kotak Keajaiban Pulau Ambon yang membahas kerang-kerang di perairan Ambon. Bukunya ini bernasib lebih baik daripada buku-buku sebelumnya. Rumphius tak mengirimkan buku ini kepada pejabat-pejabat VOC, tetapi mengirimkannya langsung kepada seorang sahabatnya di Belanda dan menerbitkannya pada tahun 1705. Tetapi, Rumphius tidak melihat satu bukunya pun terbit, sebab ia telah meninggal di Ambon pada tahun 1702.

Dari Catatan Seorang Pengembara


Ibnu Batutah, pengembara dari Magribi (Maroko). Ia pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia pada Abad Pertengahan. Dalam jangka waktu tiga puluh tahun, Ibnu Batutah menjelajahi sebagian besar Dunia Islam dan banyak negeri non-Muslim, termasuk Afrika Utara, Tanduk Afrika, Afrika Barat, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Tiongkok. Menjelang akhir hayatnya, ia meriwayatkan kembali pengalaman-pengalamannya menjelajahi dunia untuk dibukukan dengan judul Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib‎, Tuḥfatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār), atau lazim disebut Lawatan atau Ar-Rihlah dalam bahasa Arab. Riwayat perjalanan Ibnu Batutah menyajikan gambaran tentang peradaban Abad Pertengahan yang sampai sekarang masih dijadikan sumber rujukan.

Dalam Ar-Rihlah Ibnu Batutah diungkapkan bahwa, pada tahun 1345, Ibnu Batutah melanjutkan pelayarannya dan menyinggahi Kesultanan Samudra Pasai (disebut “al-Jawa”) di kawasan utara Pulau Sumatra yang kini termasuk dalam wilayah Provinsi Aceh, setelah 40 hari perjalanan dari Sunarkawan.
Ia meriwayatkan bahwa penguasa Samudra Pasai adalah seorang Muslim saleh yang bernama Sultan Al-Malikul Zahir Jamaludin. Sultan ini rajin beribadah dengan tingkat ketekunan yang tinggi, dan kerap memerangi kaum penyembah berhala di kawasan itu. Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa Pulau Sumatra kaya akan kapur barus, biji pinang, cengkih, dan timah. Mazhab yang dianut di negeri itu adalah mazhab Imam Syafi‘i, dan amalan-amalan umat Muslim Samudra Pasai mirip dengan amalan-amalan yang pernah ia lihat di kawasan pesisir India, khususnya di kalangan umat Muslim Mappila, yang juga menganut mazhab Imam Syafi‘i. Pada masa itu, Samudra Pasai adalah pelosok terjauh Darul Islam (wilayah berpemerintahan Islam), karena tidak ada lagi wilayah lain di sebelah timur Samudra Pasai yang diperintah penguasa Muslim. Di Samudra Pasai, Ibnu Batutah tinggal sekitar dua pekan lamanya di dalam kota berpagar kayu sebagai tamu sultan. Sang Sultan mencukupi perbekalan yang diperlukan untuk berlayar, dan memberangkatkan Ibnu Batutah ke Negeri Tiongkok dengan salah satu jung pribadinya.
Ibnu Batutah pertama kali berlayar selama 21 hari ke sebuah tempat yang disebut “Mul Jawa” (pulau Jawa) yang merupakan pusat sebuah kekaisaran Hindu. Kekaisaran membentang sebesar 2 bulan perjalanan, dan memerintah negara Qaqula dan Qamara. Dia tiba di kota bertembok bernama Qaqula/Kakula, dan mengamati bahwa kota itu memiliki kapal perang untuk bajak laut yang merampok dan mengumpulkan tol dan gajah dipekerjakan untuk berbagai tujuan. Dia bertemu dengan penguasa Mul Jawa dan tinggal sebagai tamu selama tiga hari. Dari sini Ibnu Battutah kemudian bertolak ke Malaka.

Dari Catatan Seorang Saudagar


Marco Polo (Venesia, 15 September 1254 – 8 Januari 1324) adalah saudagar, sekaligus petualang dan pengarang asal Venesia yang berkelana ke berbagai pelosok Asia lewat Jalur Sutra antara tahun 1271 sampai 1295. Kisah-kisah petualangannya dibukukan dengan judul Petualangan-Petualangan Marco Polo (Pustaka Keajaiban Dunia atau Il Milione, terbit sekitar tahun 1300). Buku ini memberi gambaran kepada bangsa Eropa tentang adat-istiadat dan keseharian masyarakat Dunia Timur yang kala itu masih merupakan suatu misteri bagi mereka, termasuk tentang kekayaan dan keluasan wilayah kedaulatan bangsa Mongol dan negeri Tiongkok pada zaman kulawangsa Yuan, dan dengan demikian menjadi sumber informasi yang komprehensif bagi bangsa Eropa seputar Tiongkok, Persia, India, Jepang, serta berbagai kota dan negeri lain di Asia.

Dalam kisahnya Marco Polo pernah mendeskripsikan pesisir utara Sumatra kepada Eropa yang relatif akurat, meski banyak yang tidak mempercayai kisahnya tersebut. Marco Polo menyebut daerah di Asia Tenggara yang ia tinggali cukup lama pada 1290-an tersebut (Pulau Sumatra) sebagai “Jawa Kecil”. Kunjungan keluarga Marco Polo kala itu bertepatan dengan pembentukan negara pelabuhan Islam pertama di sepanjang pantai utara Pulau Sumatra. Marco Polo hanya menjelaskan empat kerajaan di catatannya dari delapan kerajaan yang ada di Pulau Sumatra yang memiliki bahasa masing-masing yang ia singgung di awal catatannya. Kerajaan pertama adalah Kerajaan Ferlec atau Perlak. Penduduk Kerajaan Perlak seiring dengan seringnya melakukan kontak dengan pedagang Saracen yang berlabuh di sana, para penduduk kota menganut ajaran Muhammad, sedangkan penduduk desa masih hidup seperti binatang. Kemudian kerajaan kedua ialah Kerajaan Basman atau Peusangan. Penduduknya mengaku setia pada Kubilai Khan. Namun, mereka tak mengirim upeti kepada kaisar Mongol itu. Lokasi mereka yang terpencil sulit terjangkau oleh utusan Mongol. Mereka hidup tanpa hukum dan menganut hukum binatang buas dan kejam. Ketiga, Kerajaan Sumatra atau Samudera, yang kemudian dikenal sebagai Pasai. Bersama sang ayah dan paman, Marco Polo tinggal di sana selama lima bulan, sembari menunggu cuaca yang lebih bersahabat untuk melanjutkan perjalanan. Penduduk di sana punya raja yang kaya dan sangat berkuasa. Keempat, Kerajaan Dragoian atau Pidie. Kerajaan ini punya raja dan bahasa sendiri.

Dari Catatan Seorang Rohaniwan


Fa Hsien atau Fa Hien adalah seorang rohaniwan Buddha dari China dan seorang penjelajah abad ke-5. Di usianya yang tidak lagi muda, ia melakukan perjalanan ke India untuk memperoleh kitab-kitab agama Buddha. Ia kemudian menuangkan pengalamannya selama perjalanan ke dalam catatan. Kumpulan tulisan Fa Hien dikenal dengan judul “A Record of Buddhist Kingdoms” atau “Catatan Negara-negara Buddhis”. Catatan pentingnya yang kemudian diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa di dunia itu juga memuat informasi tentang Kerajaan Tarumanegara di Tanah Sunda. Pasalnya, dalam perjalanannya kembali ke China, Fa Hien memang sempat singgah di Jawa. Ia berada di Jawa selama sekitar lima bulan, yakni antara Desember 412 hingga Mei 413. Dalam catatannya, Fa Hien tidak banyak membahas tentang Jawa, tetapi lebih banyak mengulas bagaimana perjalanannya. Kendati demikian, ada sedikit informasi tentang Kerajaan Tarumanegara yang didapat dari catatan Fa Hien. Dalam catatan Fa Hien, masyarakat Tarumanegara yang sudah memeluk agama Hindu-Buddha jumlahnya masih sedikit dan hanya terbatas pada lingkungan kerajaan. Nama lain Kerajaan Tarumanegara menurut catatan Fa Hien adalah To-lo-mo. Setelah Fa Hien menceritakan tentang Tarumanegara, ia bertolak ke China dan sampai di tanah kelahirannya pada 414.

Dari Catatan Seorang Biksu


I-Tsing lahir di Yanjing, China, pada 635 Masehi dan menjadi biksu pada usia 14 tahun. I-Tsing adalah salah satu tokoh yang berperan besar dalam historiografi Indonesia. Catatan perjalanannya menjadi sumber para peneliti dalam mengungkap Kerajaan Sriwijaya dan perkembangan ajaran Buddha di nusantara pada abad ke-7. Dalam catatannya, ia kagum dengan perkembangan agama Buddha di Sriwijaya. I-Tsing bahkan menyarankan para biksu dari negerinya yang hendak menuju Nalanda untuk belajar di Sriwijaya. Ketika tinggal di Sriwijaya, ia bertemu dengan para biksu dari pulau-pulau di nusantara lainnya. Menurutnya, Kerajaan Holing atau Kalingga di Jawa dapat ditempuh empat hari perjalanan melalui laut dari Sriwijaya. Ia juga menulis bahwa raja-raja di nusantara banyak yang memeluk agama Buddha.

Bagaimana pun catatan perjalanannya pada abad ke-7 merupakan sumber penting bagi sejarah kerajaan abad pertengahan di sepanjang jalur laut antara China dan India. Dalam pelayarannya dari China ke India untuk memperdalam ajaran Buddha, I-Tsing pernah tinggal di nusantara, khususnya di Sriwijaya, dalam waktu yang cukup lama. Bahkan catatan tertua tentang Sriwijaya diketahui dibuat oleh I-Tsing. Sepanjang hidupnya, I-Tsing diperkirakan telah menerjemahkan ratusan teks Buddha dari bahasa Sanskerta ke bahasa Mandarin.

Penulis Dr. Joko Santoso, M, Hum, merupakan Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan, Perpustakaan Nasional RI