CBRE: Pasar Properti Jakarta Tetap Tangguh, Sektor Industri dan Logistik Tunjukkan Kinerja Kuat

CBRE: Pasar Properti Jakarta Tetap Tangguh, Sektor Industri dan Logistik Tunjukkan Kinerja Kuat

Prosatu.com Jakarta – Pasar properti Jakarta menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada kuartal III 2026, sektor perkantoran mencatat peningkatan aktivitas sewa, sementara sektor industri dan logistik mempertahankan kinerja yang kuat. Di saat yang sama, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membentuk arah kebutuhan ruang kerja dan strategi pengelolaan aset properti komersial.

Managing Director CBRE Indonesia, Angela Wibawa, mengatakan bahwa fundamental ekonomi domestik masih mendukung aktivitas pasar properti. Pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi terkendali, investasi berkelanjutan, serta besarnya pasar domestik menjadi faktor pendukung di tengah ketidakpastian global.

“Indonesia terus menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat. Konsumen masih aktif, tetapi semakin selektif dengan berfokus pada kualitas, efisiensi, dan penciptaan nilai jangka panjang,” ujar Angela dalam Media Briefing CBRE Indonesia, Selasa (28/10).

Di sektor perkantoran, kawasan Central Business District (CBD) Jakarta mencatat penyerapan bersih ruang kantor (net take-up) sekitar 22.900 meter persegi pada kuartal III 2026. Tingkat hunian meningkat menjadi 76,6%, tertinggi sejak periode pemulihan pascapandemi.

Senior Director dan Co-Head of Office Services CBRE Indonesia, Judy Sinurat, menjelaskan bahwa permintaan penyewa semakin terkonsentrasi pada gedung perkantoran Premium Grade dan Grade A. Tren flight-to-quality, yakni kecenderungan penyewa memilih gedung berkualitas lebih tinggi, terus menguat seiring meningkatnya perhatian terhadap spesifikasi bangunan, keberlanjutan, fasilitas, dan kualitas lingkungan kerja.

Kondisi ini mendorong pemilik gedung untuk meningkatkan daya saing aset melalui renovasi, pembaruan fasilitas, serta perbaikan lingkungan kerja guna mempertahankan dan menarik penyewa.

Sementara itu, pasar perkantoran di luar CBD Jakarta juga mencatat perkembangan positif. Albert Dwiyanto, Senior Director dan Co-Head of Office Services CBRE Indonesia, menyampaikan bahwa penyerapan bersih mencapai sekitar 21.600 meter persegi, dengan tingkat hunian yang stabil di angka 73,2%.

Permintaan terutama berasal dari instansi pemerintah serta perusahaan di sektor barang konsumsi atau fast-moving consumer goods (FMCG), teknologi, kimia, dan energi. Selain harga sewa, akses transportasi, efisiensi operasional, keberlanjutan, serta kenyamanan karyawan semakin menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi kantor.

“Gedung perkantoran yang terus meningkatkan kualitas fasilitas dan kenyamanan bagi penyewa akan memiliki daya saing lebih baik dalam menarik dan mempertahankan penyewa di tengah persaingan pasar yang semakin ketat,” jelas Albert.

Sektor Industri dan Logistik Pertahankan Kinerja Kuat

Sektor industri dan logistik menjadi salah satu penopang utama pasar properti Jakarta dan sekitarnya. Menurut Ivana Susilo, Head of Capital Markets & Industrial Logistics CBRE Indonesia, penyerapan lahan industri mencapai sekitar 59 hektare pada kuartal III 2026. Capaian tersebut turut mendukung tingkat hunian kawasan industri di Jabodetabek yang mencapai 91,6%.

Aktivitas industri masih terkonsentrasi di koridor yang telah berkembang, seperti Cikarang dan Karawang, dengan dukungan infrastruktur serta ekosistem industri yang matang. Kualitas utilitas, termasuk pasokan listrik, air, dan jaringan telekomunikasi yang andal, juga semakin menentukan keputusan perusahaan dalam memilih lokasi, terutama bagi operator pusat data (data center) dan industri berbasis teknologi.

Di sektor logistik, tingkat hunian mencapai sekitar 97%. Permintaan dari sektor e-commerce, manufaktur, penyedia jasa logistik pihak ketiga (third-party logistics), dan operator rantai dingin (cold-chain) menjadi faktor pendukung. Sementara itu, terbatasnya pasokan baru turut menjaga fundamental pasar dan mendukung pertumbuhan tarif sewa di koridor logistik Jabodetabek.

Pasar Ritel Menguat, Mal Premium Unggul

Di sektor ritel, tingkat hunian pusat perbelanjaan di Jakarta meningkat menjadi 86,8% pada kuartal III 2026, didukung penyerapan ruang yang positif dan ekspansi peritel. Mal premium mencatat kinerja lebih kuat dibandingkan segmen lainnya, dengan tingkat hunian di atas 95%.

Senior Director dan Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus, menilai bahwa perubahan perilaku konsumen turut memengaruhi strategi pengelola pusat perbelanjaan. Mal kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja, tetapi juga sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman, gaya hidup, dan kombinasi tenant yang menarik.

Tren tersebut menguntungkan pusat perbelanjaan yang mampu menghadirkan pengalaman berbeda dan memenuhi ekspektasi konsumen yang semakin selektif.

AI Mengubah Kebutuhan Ruang Kerja, Bukan Sekadar Mengurangi Pekerjaan

Di luar perkembangan masing-masing sektor, AI menjadi salah satu faktor yang berpotensi membentuk masa depan pasar properti komersial. Teknologi ini semakin memengaruhi cara perusahaan menjalankan bisnis, cara karyawan bekerja, serta cara organisasi mengevaluasi kebutuhan ruang kantor.

Anton menjelaskan bahwa berdasarkan analisis CBRE, dampak AI dalam jangka pendek lebih mungkin terlihat melalui perubahan jenis pekerjaan dan peningkatan efisiensi dibandingkan penurunan signifikan permintaan ruang kantor.

Di kawasan Asia Pasifik, hanya sebagian kecil pekerjaan yang dinilai sangat rentan terhadap disrupsi AI. Sementara itu, sebagian besar pekerja masih memiliki kapasitas untuk beradaptasi melalui peningkatan keterampilan (reskilling) dan mobilitas pekerjaan.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa transformasi AI tidak hanya berkaitan dengan potensi pengurangan tenaga kerja, tetapi juga dengan perubahan cara perusahaan mengoptimalkan ruang, meningkatkan produktivitas, dan menyesuaikan lingkungan kerja dengan kebutuhan bisnis.

Menutup Media Briefing, Angela menegaskan bahwa prospek jangka panjang pasar real estat Jakarta tetap positif, seiring membaiknya fundamental di berbagai sektor, terutama industri, logistik, dan pusat data.

“Meskipun terdapat ketidakpastian global, fundamental pasar berangsur membaik di sebagian besar sektor, khususnya industri, logistik, dan pusat data. Ke depan, transformasi teknologi yang dipimpin oleh AI akan menghadirkan tantangan sekaligus peluang, namun prospek jangka panjang pasar real estat Jakarta tetap positif,” tutup Angela.