Bukan Sekadar Horor, Lobang Buaya Buka Misteri Dendam dan Kekuasaan di Era 1960-an

Bukan Sekadar Horor, Lobang Buaya Buka Misteri Dendam dan Kekuasaan di Era 1960-an

Prosatu.com Jakarta — Setiap tanggal 30, satu per satu tokoh penting di sebuah desa tewas dengan luka berpola serupa. Saat Letnan Soegeng menyelidiki rangkaian pembunuhan itu, ia menemukan jejak yang mengarah pada teka-teki lebih besar—dan semakin dekat dengan peristiwa 30 September 1965.

Misteri tersebut menjadi premis utama film Lobang Buaya, karya terbaru sutradara Hanung Bramantyo yang memadukan genre horor, misteri, dan latar sejarah Indonesia era 1960-an.

Diproduksi Adhya Pictures dan Dapur Film, film ini menggelar Gala Premiere di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis (25/9), sebelum resmi tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.

Cerita berpusat pada Letnan Soegeng, diperankan Baskara Mahendra, seorang perwira muda yang ditugaskan menyelidiki serangkaian pembunuhan di Desa Lobang Buaya.

Awalnya, kasus tersebut tampak seperti pembunuhan biasa. Namun, penyelidikan Soegeng justru membuka teka-teki yang jauh lebih rumit.

Setiap pembunuhan memiliki pola. Waktunya pun berulang.

Tanggal 30.

Seiring kasus bertambah, suasana desa berubah menjadi penuh kecurigaan. Warga mulai saling mencurigai, sementara Soegeng harus berpacu dengan waktu untuk menemukan siapa sebenarnya dalang di balik rangkaian pembunuhan tersebut.

Yang membuat investigasi semakin pelik, hampir setiap karakter dalam cerita memiliki hubungan dengan misteri itu, mulai dari tokoh masyarakat, pejabat lokal, aparat keamanan hingga warga desa.

Horor sebagai Bahasa Fiksi
Mengambil latar satu tahun sebelum peristiwa 30 September 1965, Hanung menegaskan bahwa Lobang Buaya merupakan karya fiksi, bukan rekonstruksi atas tragedi sejarah 1965.

Menurut Hanung, unsur horor dalam film digunakan sebagai bahasa dramatik untuk menggambarkan dendam, trauma, kekuasaan, dan dampak kejahatan yang terus menghantui para tokohnya.

“Saya memahami jika ada orang yang merasa pendekatan horor tidak tepat. Itu adalah pandangan yang sah. Tetapi saya berharap pilihan genre tidak otomatis dianggap sebagai bukti bahwa pembuat film tidak memiliki empati,” ujar Hanung.

Ia mengatakan film tersebut juga sengaja memberikan batas yang jelas antara kisah fiksi dengan tragedi sejarah ketika cerita bergerak mendekati 30 September 1965.

“Saya membuat film ini bukan untuk menertawakan tragedi. Saya membuatnya untuk bercerita tentang bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror yang jauh lebih panjang daripada kehidupan orang-orang yang menciptakannya,” katanya.

Kesadaran terhadap konteks sejarah, lanjut Hanung, menjadi bagian penting dalam proses kreatif film tersebut.

Baskara Mahendra Ikut Terkecoh
Misteri dan plot twist dalam Lobang Buaya juga menjadi tantangan tersendiri bagi Baskara Mahendra.

Memerankan Letnan Soegeng, Baskara harus membawa penonton mengikuti proses investigasi sekaligus menelusuri berbagai petunjuk yang sengaja disebar sepanjang cerita.

Menariknya, ia mengaku beberapa kali ikut terkecoh dengan arah cerita.

“Memerankan Soegeng benar-benar pengalaman yang sangat unik bagi saya. Di film ini saya harus bermain peran di latar yang tidak familiar dengan saya, yaitu Indonesia tahun 1960-an,” ujar Baskara.

Bahkan setelah terlibat langsung dalam proses produksi, Baskara mengaku tetap kesulitan menebak siapa sosok di balik pembunuhan tersebut.

“Bahkan saya yang ikut main filmnya nggak bisa nebak siapa dalangnya,” lanjutnya.

Selain Baskara Mahendra, film ini turut menghadirkan Carissa Perusset, Anya Zen, dan Mathias Muchus.

Teka-teki yang Berujung pada 30 September
Pola pembunuhan yang terjadi setiap tanggal 30 menjadi salah satu kunci misteri dalam film.

Semakin mendekati 30 September 1965, penyelidikan Soegeng justru mengarah pada persoalan yang semakin kompleks. Hubungan antara para karakter, kepentingan kekuasaan, dendam masa lalu, dan rangkaian pembunuhan perlahan terhubung dalam satu teka-teki besar.

Di titik inilah Lobang Buaya mencoba memadukan fiksi misteri dengan konteks sejarah yang sensitif.

Film ini tidak ditempatkan sebagai rekonstruksi sejarah, melainkan menggunakan periode tersebut sebagai latar bagi kisah fiksi tentang teror, dendam, dan kekuasaan.

Lobang Buaya telah tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.

Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film ini disutradarai sekaligus ditulis oleh Hanung Bramantyo.

Informasi dan materi promosi resmi film tersedia melalui Instagram @filmlobangbuaya dan @adhyapictures, serta TikTok @adhyapictures.