Prosatu.com – Pada perdagangan hari Selasa (4/10) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat dibandingkan kemarin. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhenti di zona hijau bersamaan dengan bursa saham Asia yang juga serempak menguat.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pukul 16.00 WIB di pasar spot exchange ditutup sebesar Rp 12.978 per dolar AS atau menguat 4,5 poin (0,03%) dari penutupan sebelumnya. Kurs rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 12.997-Rp 13.002 per dolar AS. Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah berada di posisi Rp 12.988 per dolar AS atau menguat dari posisi kemarin sebesar Rp 13.010 per dolar AS dengan kisaran perdagangan Rp 13.053- Rp 12.923 per dolar AS.
Berdasarkan data IMQ, rupiah di posisi Rp 12.958 per dolar AS atau menguat 25 poin (0,19%) dari posisi kemarin Rp 12.983. Rupiah sempat ke posisi terlemah di level Rp 13.015 dan terkuat Rp 12.950. Sedangkan euro di pasar spot exchange pukul 16.00 melemah 0,0041 (0,37%) mencapai 1,1170 euro per dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya. Adapun pound sterling melemah 0,0079 (0,62%) mencapai 1,2763 pound sterling per dolar AS.
Sebagai informasi, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menilai, inflasi September sebesar 0,22% cukup baik, sejalan dengan perkiraan bank sentral. Pihaknya memperkirakan, inflasi hingga akhir tahun ini akan berada di bawah 4%.
Menurut Juda, sejauh ini, pihaknya belum akan mengubah stance kebijakan moneter BI. Sebelumnya, BI telah menetapkan stance kebijakan moneter longgar (easing) dan menyatakan masih terbuka ruang pelonggaran moneter maupun makroprudensial ke depan.
Sejalan dengan pelonggaran moneter yang telah dilakukan BI dan stabilnya inflasi, menurut Juda, ke depan tren penurunan suku bunga bank masih akan berlanjut. Adapun berdasarkan data BI, hingga akhir Agustus 2016, rata-rata suku bunga kredit perbankan tercatat sebesar 12,31%, turun 52 bps dari ratarata bunga kredit akhir Desember 2015 sebesar 12,83.
Dari bursa saham, empat sektor menguat, sementara 6 sektor lainnya melemah. Sektor aneka industri memimpin penguatan indeks sebesar 1,17%. Sementara sektor agrikultur mencatatkan pelemahan tertinggi sebesar 1,08%.
Sebanyak 129 saham naik, 166 saham turun, dan 102 saham stagnan. Frekuensi saham ditransaksikan sebanyak 286.765 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 7,264 miliar saham senilai Rp 7,189 triliun. Dana asing keluar tercatat Rp 180,923 miliar.
Beberapa saham yang masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik 2.075 poin (3,20%) ke Rp 66.975, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik 325 poin (3,27%) ke Rp 10.275, Semen Indonesia (SMGR) naik 275 poin (2,64%) ke Rp 10.675, dan First Media (KBLV) naik 240 poin (9,96%) ke Rp 2.650.
Adapun saham-saham yang masuk dalam jajaran top losers di antaranya Multi Bintang Indonesia (MLBI) turun 450 poin (3,59%) ke Rp 12.100, Matahari Deparatment Store (LPPF) turun 300 poin (1,56%) ke Rp 18.900, Solusi Tunas Pratama (SUPR) turun 300 poin (4,00%) ke Rp 7.200, dan Bank Mayapada (MAYA) turun 280 poin (9,03%) ke Rp 2.820.
Sejak pagi, IHSG terus bergerak di zona hijau. Pada perdagangan preopening, IHSG bergerak menguat 13,581 poin (0,21%) ke 5.475,633. Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka naik 11,572 poin (0,21%) ke 5.475,487.
Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG ditutup bertambah 1,120 poin (0,02%) ke 5.465,035. Sementara indeks unggulan LQ45 ditutup naik 0,686 poin (0,07%) ke 944.503.
Pada akhir perdagangan Selasa (4/10), IHSG ditutup menguat 8,402 poin (0,15%) ke 5.472,317. Sementara indeks LQ45 ditutup naik 2,708 poin (0,29%) ke 946.525.
Di pasar uang, dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap rupiah. Berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS bergerak di Rp 12.978 dibandingkan posisi pembukaan pagi tadi di Rp 12.980.
Adapun kondisi bursa saham Asia, antara lain: Indeks Nikkei 225 naik 136,98 poin (0,83%) ke 16.735,65, Indeks Hang Seng naik 47,54 poin (0,20%) ke 23.631,97, dan Indeks Straits Times naik 13,80 poin (0,48%) ke 2.884,64.
Sebagai informasi, PT PP Properti Tbk (PPRO) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1 triliun pada 2017. Capex tersebut antara lain akan berasal dari penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) yang bakal dilangsungkan awal tahun depan.
Disampaikan, salah satu pendanaan perseroan tahun depan berasal dari penambahan modal melalui HMETD (rights issue) dengan target dana sekitar Rp 1,5 triliun. Dalam aksi korporasi itu, perseroan akan mendapatkan dana injeksi dari induknya, PT PP Tbk (PTPP), sebesar Rp 1 triliun dan pemegang saham lainnya Rp 500 miliar.
Di sisi lain, PP Properti optimistis kinerja keuangan kuartal III- 2016 bertumbuh dari periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan tahun ini diperkirakan naik 20% dari tahun lalu. Tahun depan, PP Properti juga menargetkan pertumbuhan pendapatan yang sama dari target tahun ini. Hingga kuartal III tahun ini, PP Properti membukukan marketing sales Rp 1,5 triliun. Sampai akhir 2016, perseroan menargetkan marketing sales Rp 2,5 triliun dengan laba bersih Rp 364-365 miliar.
















