Prosatu.com Jakarta – Banyaknya beredar cat yang mengandung timbal lebih dari tiga perempat cat yang di analisa tidak memenuhi standar.
Banyaknya cat warna terutama cat enamel dekoratif untuk kayu dan besi dengan warna yang terang yang sudah banyak digunakan untuk fasilitas-fasilitas pendidikan anak usia dini (PAUD) banyak mengandung timbal.
Bahkan di Amerika Serikat dan Eropa, untuk pigmen pewarna cat dan pengering berbasis timbal sudah dilarang 40 tahun yang lalu karena dampak timbal terhadap kesehatan dan pertumbuhan anak-anak fatal dan tidak terpulihkan.
Benjamin dari BSN dalam ungkapannya tentang SNI di Annual Kuningan, Senin (7/3) mengatakan, “Bagaimana kita nanti menghadapi SNI dan pemerintahan yang terkait, Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup harus melakukan persiapan yang terkait dengan masalah ini. Kami sudah sering menyampaikan bahwa uu no 20 tahun 2014 tentang standarisasi dan penilaian kesesuaian. Insyaallah pada tahun 2017 ini akan melaksanakan UI tahun 2014. Untuk itu standarisasi dan penilaian kesesuaian merupakan salah satu alat untuk meningkatkan mutu.”
Pengungkapan tersebut merupakan lanjutan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean dalam hal standarisasi nasional Indonesia.
“Hasil perumusan ini dapat dilibatkan dari , pemerintah, pengusaha dan konsumen,” lanjutnya.
Selain itu WHO menyatakan bahwa “tidak ada angka aman bagi timbal sehingga perlu dilakukan pencegahan dengan angka 90 ppm yang harus dicapai oleh industri.
“Rencananya SNI sebetulnya diterapkan tahun 2014. Jika SNI ini akan dijadikan wajib maka ini perlu dipertimbangkan. Faktornya juga harus kesiapan dari LPK (Lab Uji dan LS Produksi),” tambahnya.
Bahkan pada tahun 2015, BaliFokus melakukan studi kedua dengan melibatkan 121 sampel dari 63 merek yang diambil dari 5 kota besar di Indonesia bahwa sekitar 83 % dari sampel yang diuji mengandung timbal di atas 90 ppm dan nilai tertinggi adalah 102.000 ppm.
Dan mayoritas sampel cat yang diproduksi di Indonesia tidak akan diijinkan untuk dijual di Amerika Serikat atau negara industri lainnya.
Acara kajian mengenai timbal yang terkandung di dalam cat ini juga dihadiri oleh Yuyun Ismawati dari BaliFokus, Noer Adi Wardoyo dari KLH, Bendjamin B. Louhenapessy, serta Dr. dr. Tb. Rachmat Sentika, Sp. A, MARS. (ps)
















