Pilkada DKI, Tidak Ada Jaminan Incumbent Menang

Pilkada DKI, Tidak Ada Jaminan Incumbent Menang

_20151207_162936

Prosatu.com Cisarua – Pelaksanaan Pilkada di DKI Jakarta memang masih sekitar satu tahun lagi, Tak sedikit pula calon Gubernur yang maju dalam Bursa pencalonan kali ini,ada yang berasal dari petahana atau incumbent dan ada juga wajah baru yang ikut dalam pertarungan pemilihan Gubernur DKI ini

Ketua KOMUNITAS PENDUKUNG ICHSANUDDIN NOORSY (KPIN) Budi Mulyawan SH berpendapat, tak ada jaminan calon incumbent akan memenangkan bursa Pilkada DKI Jakarta, Sebab, masyarakat Jakarta sudah semakin melek politik dan pemilih lebih rasional dalam memilih pasangan calon Gubernur.

“Kalau saya melihat pilkada di DKI ini sebuah model yang menunjukkan pemilih di Jakarta itu rasional,” kata Budi dalam Rapat Terbatas KPIN yang di gelar di Graha Transportasi Cisarua Bogor, Sabtu (5/12).

Oleh sebab itu, Budi menegaskan, walaupun calon merupakan incumbent dan banyak duit, belum tentu dapat menarik simpati publik. Saat ini, bagi-bagi duit bukan jurus ampuh untuk menang dalam pemilihan Gubernur DKI.”Semua pasangan calon bisa bagi duit, tapi yang menang bukan yang kasih duit besar atau sering kasih duit, tetapi yang jadi faktor penentu sejauh mana mereka kenal calon tersebut, incumbent kerja benar atau tidak, kalau tidak ya ditinggal,” jelasnya.

Menurut Budi, hasil survei dalam tahun 2014 menunjukkan 30 persen calon incumbent memang berhasil menjabat kembali sebagai Gubernur DKI. Tetapi 70 persen calon incumbent tidak terpilih kembali.”Ini menujukkan pemilih kita rasional, walau incumbent itu terkenal, banyak uang dan dukungan besar,” tandasnya.

Saat ini pemilih lebih mengedepankan rasionalitasnya dalam menentukan pilihannya kepada pasangan calon. Dalam konteks pemilihan calon Gubernur di DKI, sekarang ini, anomali sangat mungkin terjadi.

“Saya kira pemilih sekarang ini lebih rasional dalam merecord pasangan calon, dengan sedikit pasangan calon yang ada maka masyarakat lebih mudah untuk merecord. Di awal dia suka pasangan calon A, di tengah bisa dia jadi suka pasangan calon B, dan di akhir dia suka pasangan calon C,” tutup nya. (Ahyar)