Prosatu.com Jakarta – Tingginya impor beberapa komoditas pertanian membuat pemerintah pusat mencanangkan upaya khusus untuk menggenjot produksi padi, jagung dan kedelai.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (TP) Kementerian Pertanian (Kementan) beserta jajaran mulai dari Direktur hingga Kasubdit gelar diskusi dalam rangka memberikan penjelasan mengenai perkembangan pangan di Indonesia.
“Produksi padi tahun 2015 diperkirakan akan meningkat sebesar 75,551 juta ton GKG setara dengan 43,940 juta ton beras, meningkat sebesar 4,704 juta ton (6,64%), dibanding dengan tahun 2014 yang hanya 70,846 juta ton GKG,” jelas Direktur Jenderal TP, Dr.Ir Hasil Sembiring M.Sc disela diskusi yang digelar pada Jumat (23/10/15) di Ruang Rapat P2BN, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Peningkatan produksi padi dikarenakan peningkatan luas panen yakni 512.057 ha (3,71%) dan produktivitas sebesar 1,45 ku/ha (2,82%) dibanding 2014. Rencananyan pada 2 Nopember 2015 nanti, BPS akan akan menyampaikan ARAM II, yang merupakan angka realisasi periode Mei – Agustus 2015.
Sementara Kasubdit Jagung, Bambang Sugiharto menjelaskan, situasi jagung di Indonesia saat ini memang ada kenaikan, ini merupakan siklus nasional. “Perbandingan seluruh secara nasional memang tidak signifikan, terkecuali di Banten. Hingga saat ini impor jagung belum dibutuhkan, kami hanya pengendalian kebijakan impor, yang dimaksudkan untuk memperbaiki pola impor yang tidak respek pada pola produksi,” jelas Bambang.
Ditempat yang sama, Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Kedelai (Akabi), Maman Suherman menyampaikan, salah budidaya jenis kacang, yakni Kedelai saat ini masih belum maksimalnya pencapaian produksinya. Hal ini dikarenakan antara lain, harga jual kedelai di beberapa daerah masih dibawah HBP, yang seharusnya sebesar Rp 7.700/kg, namun hanya sekitar Rp 6.000/kg.
“Ini berakibat, petani tidak berminat menanam kedelai. Apalagi budidaya kedelai masih belum bersifat tradisonal dan kedelai merupakan tanaman sub tropis,” ungkapnya. (ps/hdyt)
















