Pengamat Pendidikan: Pembelajaran Bahasa Inggris Lewat Tatap Muka Lebih Efektif Daripada PJJ

Pengamat Pendidikan: Pembelajaran Bahasa Inggris Lewat Tatap Muka Lebih Efektif Daripada PJJ

Prosatu.com Jakarta – Pengamat Dunia Pendidikan, Anita Srikomalasari, S.Pd menganggap, pembelajaran melalui tatap muka langsung lebih efektif bila dibandingkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Di samping itu, mayoritas siswa cenderung menyukai pembelajaran melalui bangku sekolah dibandingkan melalui Work from Home (WfH), di masa Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal 2020

Hal tersebut diperkuat dengan survey yang dilakukan di sebuah SMA di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, dengan menunjukkan bahwa 53 dari 100 siswa yang memberikan respons ternyata lebih senang belajar bahasa Inggris di sekolah daripada belajar secara daring (online).

Menurut Anita, angka 53% tentu porsi yang signifikan karena menunjukkan separuh lebih dari siswa yang berpartisipasi dalam survei. Hal ini diperkuat dengan 23% dari responden yang mengaku mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas bahasa Inggris ketika pembelajaran dilaksanakan secara daring. Kendati PJJ bisa dimungkinkan berkat kecanggihan teknologi informasi, tetapi kendala tetap ada sebagaimana tampak dalam hasil sebuah survei.

“Bisa dimaklumi mengingat bahasa Inggris masih menjadi foreign language atau bahasa asing alih-alih sebagai second language seperti di negara-negara Eropa misalnya,” ujar Anita.

Selain tuntutan berbicara dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, kata dia, rata-rata siswa di Indonesia merupakan penutur asli (native speaker) bagi bahasa ibu mereka. Maka tak mengherankan jika kendala-kendala pembelajaran bahasa asing kerap ditemui.

“Problem paling umum biasanya kesulitan dalam pronunciation dan speaking skills yang harus ditirukan anak dari gurunya,” tutur Anita.

Belum lagi menurut dia, persoalan tata bahasa (grammar), keterampilan menulis (wiriting), isu-isu sosiokultural, gaya mengajar guru, serta kurangnya kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkan bahasa Inggris dalam kehidupan nyata.

“Kesulitan tersebut terjadi sebab kontes-konteks tertentu membutuhkan intervensi guru secara langsung, yang mungkin sulit diberikan lewat pembelajaran digital,” ungkap Anita.

Pencarian jati diri

Lanjut Anita, hal ini berdampak pada kesulitan yang dialami para siswa dalam menyelesaikan tugas bahasa Inggris lewat pembelajaran daring. “Maka 17 siswa atau 17% yang menyatakan bahwa pembelajaran bahasa Inggris secara daring tidak efektif layak kita perhatikan,” tegas dia.

Menurut Anita, mereka boleh jadi merasakan kesulitan mendapatkan umpan balik yang dibutuhkan secara cepat ketika menemukan masalah atau keraguan. Belum lagi kendala teknis dari sisi platform teknologi yang mungkin tidak merata, misalnya jenis perangkat atau sinyal saat PJJ dilaksanakan.

Jeremy Harmer dalam bukunya The Practice of English Language Teaching (2001: 39) menyatakan, bahwa ada isu-isu penting dalam proses belajar remaja yakni pencarian jati diri dan identitas yang tak jarang dibangun lewat interaksi dengan teman-temannya.

“Maka bukan hal baru jika siswa SMA lebih mencari peer approval atau persetujuan teman sebaya daripada perhatian guru.” tutur Anita.

Hal-hal ini pun menurut dia, tidak mungkin didapatkan lewat online learning sehingga hanya 16% yang berpendapat bahwa pembelajaran bahasa Inggris secara daring menjadi metode pembelajaran yang baik selama pandemi Covid-19.

Keterampilan 4C di abad ke-21

Lebih lanjut, Anita menjelaskan, yang tak kalah penting keterampilan yang wajib dikuasai siswa pada abad ke-21 menciptakan problem tersendiri. Siswa modern harus didorong untuk bisa belajar penuh percaya diri lewat penguasaan empat keterampilan agar bisa sukses di sekolah dan tempat bekerja kelak.

Dia menerangkan, keterampilan 4C meliputi Communication untuk melatih siswa agar mampu mengungkapkan ide secara efektif, Critical thinking untuk melatih mereka menyelesaikan masalah dengan mengombinasikan pengetahuan, Creativity untuk melatih siswa berpikir out the box dan menemukan keunikan dalam pencarian solusi, serta Collaboration guna menuntaskan proyek secara lebih cepat, lebih mudah, dan lebih baik.

Keempat skill tersebut harus diintegrasikan dalam aktivitas pembelajaran bahasa asing, termasuk bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Merumuskan tujuan pembelajaran dan mencatat perilaku anak sering kali lebih mungkin dilakukan

Jika pembelajaran dilakukan secara langsung lewat tatap muka menurutnya, apalagi untuk mendorong para siswa agar mau berkomunikasi secara aktif dan berkolaborasi, maka feedback dari guru atau sesama teman dalam kelompok sangat produktif jika diberikan secara offline.

“Lewat kegiatan-kegiatan kreatif, siswa bisa mengeksplorasi ide lewat high order thinking skills dengan bantuan guru tanpa mengandalkan hafalan belaka. Siswa tidak hanya mengerjakan tugas tertulis, tapi juga mendapat kesempatan untuk bermain game dan bahkan menyanyi sebagai bagian dari integrated learning,” tutur Anita.

Kegembiraan dalam belajar
Menurut David Paul (2005: 49), jika permainan dan nyanyian dikombinasikan, maka dampaknya bisa sangat luar bisa. Siswa Indonesia yang mempelajari bahasa Inggris sebagai foreign language sangat membutuhkan game untuk menciptakan lingkungan kondusif saat mempelajari hal baru.

“Ketika siswa merasa gembira, mereka akan cenderung berani mengambil risiko, tak takut membuat kesalahan, dan berusaha mengatasi kebingungan saat menemukan kata-kata atau pola yang baru,” kata Anita.

Menurut dia, kesempatan untuk melakukan hal-hal tersebut lebih mungkin tersedia jika pembelajaran dilakukan secara offline. Melihat siatuasi terkini di mana pandemi belum sepenuhnya usai, pembelajaran daring atau online learning boleh jadi pilihan yang masuk akal.

“Akan tetapi, opsi tersebut juga menghadirkan masalah baru sebagaimana tecermin dalam hasil survei, antara lain kebosanan bagi para siswa dan minimnya interaksi langsung di antara mereka yang membuat pembelajaran bahasa Inggris secara daring dirasa tidak efektif,” pungkasnya.