Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon Dituduh Mengubah Lagu, Tindakan Kekanakkan

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon Dituduh Mengubah Lagu, Tindakan Kekanakkan

Posted by

Prosatu.com Jakarta – Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon dituduh merubah lagu anak-anak yang dianggap Tindakan Ke Kanak-kanakan.

Beberapa waktu lalu sempat ramai diberitakan setelah mengganti lirik lagu anak Naik-Naik Ke Puncak Gunung yang sebagai kritik atas kenaikan harga BBM di akun twitter miliknya.

Fadli Zon menyampaikan bahwa dirinya hanya menuliskan ulang lirik yang pernah diubah Imam Besar FPI.

Hal tersebut mengundang sejumlah reaksi dari berbagai pihak yang mengkritik tindakan tersebut dianggap kekanak-kanakan, seperti salah satunya yang disampaikan Ketua DPP Partai NasDem, Irma Suryani Chaniago. “Childish dan sangat tidak konstruktif. Fadli dari dulu kan memang cuma modal kritikk! Mana punya kemampuan yang lain?”.

Kritik lain juga disampaikan salah satu Calon Legislatif PSI, Riza Villano Satria Putra, ditemui di kawasan Pulomas, Jakarta Timur pada Jumat 12 Oktober 2018 kemarin, Riza menyampaikan dirinya sangat menyayangkan tindakan FZ tersebut.

“Saya melihat wakil-wakil rakyat di DPR RI sekarang itu kurang bermanfaat, bisanya cuma cuit-cuit di media sosial seperti yang dilakukan bapak yang terhormat Fadli Zon yang mengubah lagu Naik-naik BBM,” ujarnya.

Jika bapak Fadli Zon benar-benar peduli sama rakyat atau sekedar eksis doang, saya rasa dia bisa kok, dia kan punya hak interpelasi terhadap kenaikan bbm, tapi saya justru melihat tidak pernah ada suatu langkah nyata yang dilakukan DPR RI yang ada malah cuit-cuit di twitter.”

“Kita berandai-andai saja, jika 2019 FZ jadi prsiden dan saya jadi wakil ketua DPR RI dan beliau menaikan harga bbm, saya akan interpelasi dan hanya butuh 13 orang. Saya akan pertanyakan kenapa kebijakan tersebut diambil. Jika dirasa kurang tepat maka sebagai wakil rakyat saya akan anulir dan bukan cuit-cuit,” sambung Riza.

“Saya merasa, peran DPR RI saat ini tidak berapa signifikan sebagai wakil rakyat.”
“Jika bicara kenaikan bbm, dari jaman presiden Soeharto juga semua presiden mengambil langkah tersebut, dan menurut saya wajar, kenapa,? Saya melihat dari 2 sisi, yang pertama memang bagi sebagian besar orang merasakan dampak tersebut, tapi saya pelajari, masyarakat yang menggunakan bbm itu sebagian besar tidak berada dalam kategori kesulitan ekonomi atau masih dalam kategori mampu.”

Kita lihat negara Jepang dengan politik dumping-nya, warga negaranya membayar resources mereka lebih mahal. Saya menganggap, seharusnya orang Indonesia membeli bbm itu mahal, itu kan resources kita dan kembali ke kita buat kesejahtraan bersama. Dibanding negara-negara Asia lainnya, harga bbm kita masih murah kok,” tambah Riza.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>