Visi Kemaritiman Banten melalui Pembangunan Pelabuhan Bojonegara

Visi Kemaritiman Banten melalui Pembangunan Pelabuhan Bojonegara

Prosatu.com Banten – Putra daerah dan Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Banten berharap, Pemerintahan Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo meneruskan pendahulunya, yakni presiden Megawati Soekarnoputri (Juli 2001 – Oktober 2004) yang pernah merealisasikan visi kemaritiman, khususnya kepelabuhan untuk mendongkrak ekonomi. Pelabuhan Bojonegara di Puloampel, Serang, Banten sempat diproyeksikan sebagai pelabuhan internasional pada masa pemerintahan mantan presiden Megawati.

“Kami sayangkan, visi kepelabuhan yang dicanangkan pak Jokowi tidak melanjutkan dari yang sudah dicanangkan ibu Megawati (Presiden ke-V RI). (visi kemaritiman Presiden Jokowi) sejauh ini, hanya pada ibu Susi (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti) yang terkenal hanya  dengan (berteriak-teriak) ‘tenggelamkan, tenggelamkan.’ Kami mau visi pelabuhan termasuk kelanjutan (pembangunan) Pelabuhan Bojonegara,” kata ketua FSPP Banten Fadlullah di Serang, Sabtu (15/8).

Pelabuhan Bojonegara dikelola Pelindo II selama 25 tahun sempat terlilit konflik lahan, dan mulai operasional pada awal tahun 2020. Pelabuhan tersebut direncanakan sebagai pelabuhan internasional. Pembangunan pelabuhan ini peletakan batu pertamanya dihadiri langsung oleh Megawati Soekarno putri saat menjabat sebagai Presiden RI.

“Pelabuhan Bojonegara juga bagian dari cita-cita mengembalikan kejayaan maritim, yakni mengganti Selat Malaka pada Teluk Banten,” tegas Fadlullah.

Ketika masa pemerintahan Belanda, Selat Malaka sebagai negara maritim yang dikuasai kerajaan Islam di Banten. Lalu terjadi pengambil- alihan oleh Belanda dari penjajahan Portugis. Ketika Belanda mulai menjajah, Banten dijadikan pusat perdagangan internasional dengan menggeser Selat Malaka ke Teluk Banten.

“Oleh karena Teluk Banten memiliki keunggulan, (yakni) gelombang landai. Kalau Selat Malaka sebaliknya, gelombangnya tinggi. Merak – Bakauheni (Lampung) sebagai pelabuhan antar pulau, bukan menjadi pusat perdagangan internasional,” tegas Fadlullah.

Pelabuhan Bojonegara sempat mengoperasionalkan angkutan kendaraan besar yang akan menyeberang ke Lampung. Pelabuhan ini jadi alternatif penyeberangan selain Merak Bakauheni. Angkutan Lebaran 2019, sejak H-7 hingga H-1, pelabuhan tersebut ikut membantu kelancaran angkutan truk. Pelabuhan juga memiliki empat kapal yang melayani 24 jam pelayaran dari Bojonegara, menuju BBJ Bakauheni, yang berdampingan dengan Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Kegiatan penyebrangan Merak – Bakauheni hanya menjadi pelabuhan transportasi antar pulau, tidak menjadi pusat perdagangan internasional.

“Pelabuhan Ciwandan, ada kegiatan bongkar muat milik Pelindo (BUMN), tapi tidak maksimal. Karena pelabuhan tersebut tidak berorientasi pada perdagangan internasional. Kita bandingkan Teluk Banten dengan Tanjung Priok (Jakarta Utara) di laut Jawa. Belanda sempat menargetkan penguasaan Teluk Banten. Tapi kerajaan Islam di Banten hanya kasih Tanjung Priok saja. Tapi Indonesia merdeka tahun 1945, hanya melanjutkan apa yang menjadi jatah pemerintahan kolonial Belanda,” tegas Fadlullah.