Prosatu.com Jakarta – Kongres Kehutanan Indonesia (KKI) kembali mengadakan pertemuan besar para Rimbawan Indonesia yang kali ini mengambil tema “Reposisi Kehutanan Indonesia Menuju Terlaksananya Tata Kelola Kehutanan yang Baik”. Event ini merupakan kegiatan KKI yang keenam dan merupakan kegiatan rutin setiap lima tahun sekali. Sebagai salah satu stakeholder kehutanan di Indonesia, Korindo mensuport pelaksanaan KKI ini dengan menjawab beberapa isu penting yang dibahas dalam KKI.
Ada beberapa isu penting yang dibahas dalam tingkat regional yang menjadi fokus pelaksanaan KKI keenam, antara lain: (1) Pengembangan KPH, Optimalisasi Tata Kelola Kehutanan, dan GN- SDA. (2) Resolusi Konflik dan Pemberdayaan Masyarakat, Masyarakat Hukum Adat. (3) Perubahan Iklim dan REDD +, Restorasi Ekosistem dan Gambut, dan Kebakaran Lahan & Hutan. (4) Industri dan Bisnis Kehutanan dan SVLK. (5) Otonomi Khusus dan Perlindungan Pulau Kecil dan Terluar.
Sebagai salah satu stakeholder kehutanan di Indonesia yang telah mengembangkan industri plywood dengan 20 line produksi yang berkapasitas 500.000 M3 per tahun, Korindo turut memberikan kontribusi terhadap penerimaan devisa bagi Indonesia melalui sektor kehutanan. Untuk mencapai target kapasitas produksi 500.000 M3 per tahun, Korindo juga telah membangun industri plywood di 3 (tiga) lokasi yaitu Pangkalan Bun, Balikpapan, dan Asike (Papua).
Berdasarkan data dari kementerian perdagangan lebih dari 90% ekspor dari industri plywood korindo berorientasi untuk tujuan ekspor ke Timur Tengah, Eropa, Jepang, China, India, Turki, Vietnam.” “Angka tersebut menunjukkan bahwa kami telah memberikan kontribusi terhadap penerimaan devisa melalui sektor kehutanan.”
Di samping industri plywood, Korindo Group juga telah membangun industri kayu terpadu yang berlokasi di Kumai, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dengan hasil produksi utamanya adalah wood chip, wood pellet, dan sawn timber. Industri kayu terpadu ini sekarang mempunyai kapasitas produksi untuk wood chip (1.000.000 GMT/tahun), wood pellet (100.000 ton/tahun) dan sawn timber (12.000 m3/tahun). Kebutuhan bahan baku industri kayu terpadu berupa kayu Acacia mangium dan Eucalyptus pellita dipenuhi dari hasil panen hutan tanaman PT Korintiga Hutani. Untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi maka PT Korintiga Hutani telah mengembangkan dan menggunakan bibit-bibit tanaman dari klon-klon unggul terpilih.
Dalam mendukung kebijakan pemerintah Indonesia untuk mengembangkan pengelolaan kehutanan yang lestari dan berkesinambungan maka semua kegiatan industri kehutanan Korindo dikerjakan dengan secara efisien dan efektif serta memenuhi standarisasi baik mutu maupun lingkungan. Adapun Industri-industri lingkup Korindo telah mempunyai Amdal, Standar ISO, Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL), Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dan Forest Stewardship Council-Controlled Wood (FSC-CW).
Untuk menjawab tantangan kebutuhan bahan baku kayu untuk industri kehutanan di Indonesia yang selama ini sangat tergantung dari hasil hutan alam dimana produktivitasnya terus menurun, maka manajemen Korindo telah mengantisipasi dengan membangun Hutan Tanaman Industri (HTI) yang berlokasi di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah dengan luas 94.384 ha. Pembangunan HTI tersebut telah mempekerjakan sebanyak ± 4.500 orang.
Pemberdayaan Masyarakat
Dalam setiap pembangunan hutan, Korindo juga selalu memperhatikan hak-hak masyarakat sekitar agar ekosistem tetap berkelanjutan. Korindo melalui PT Korintiga Hutani telah melakukan pemberdayaan masyarakat melalui program CSR dengan masyarakat desa sekitar area HTI. Seperti kerjasama pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR), memberikan pelatihan kerja, memberikan pengembangan budidaya perikanan air tawar, membuat peternakan sapi potong, dan pembangunan kebun bibit. “Korindo percaya bahwa dalam setiap pembangunan harus diimbangi dengan tumbuhnya nilai tambah bagi masyarakat.
Kehadiran unit-unit usaha Korindo di berbagai tempat seperti Pangkalan Bun, Balikpapan, Asike (Papua) sudah tentu sangat membantu memajukan pembangunan dan menggerakkan perekonomian setempat terlebih daerah-daerah yang masih belum lancar aksesibilitasnya,” “Bahkan, beberapa daerah seperti Asike yang sebelumnya tidak memiliki akses infrastruktur, kini telah mempunyai akses yang lebih baik.” Multiplayer effect yang terjadi adanya industri dan usaha Korindo tersebut antara lain penyerapan tenaga kerja, menambah aksesibilitas daerah, membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar dan melalui pembayaran pajak telah berkontribusi dalam meningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) setempat.
Pelestarian Lingkungan
Korindo juga peduli terhadap kegiatan pelestarian satwa langka orang utan, dimana satwa ini sudah masuk dalam klasifikasi endangered spesies dan hanya hidup di Kalimantan dan Sumatera.
Untuk menjalankan program ini, kami sejak September tahun 2013 telah menjalin kerjasama dengan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Dalam rangka mencegah dan menanggulangi terjadinya bahaya kebakaran hutan, Korindo di setiap unit kegiatan telah membentuk dan memberikan pelatihan tim pemadam kebakaran, menerapkan early warning sistem, dan menyediakan sarana prasarana pendukung untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan seperti mobil tangki air, menara pengawasan, dan peralatan lain.















