Nusa Tenggara Coffee Week “Merawat Kopi, Merawat Ikatan, Merawat Hidup”

Nusa Tenggara Coffee Week “Merawat Kopi, Merawat Ikatan, Merawat Hidup”

Prosatu.com Jakarta – Nana Yansen harus puas mengerutkan kening berhari- hari setelah lumbung kopi Sebentar lagi akan penuh dan ia harus segera menjualnya ke pasar. Sial datang tiba- tiba Ia harus menelan puas air liurnya sendiri menampung biji kopi di gudang tempat ia biasa menyimpan biji kopi hasil panen. Pandemi Covid-19 menciptakan problem serius bagi ekonominya dan 1,3 juta petani kopi di Indonesia. Pada tahun-tahun panen bisa menjadi harihari bahagia baginya dan keluarga, tetapi tidak kali int. Barangkali begitulah ketika pertama

kali kami berusaha membayangkan bagaimana nasib para petani kopi di Nusa Tenggara Timur.

Data statistik 2018 menunjukan 96,6Y6 lahan kopi di Indonesia dikuasai oleh perkebunan rakyat. Artinya hampir sebagian besar-bisa dikatakan bukan tak mungkin bahwa ada rantai panjang yang menggantungkan hidup dari tanaman ini. Anak-anak yang sekolah di Ibukota, seorang ibu hamil di musim karantina atau harapan para penggiat kopi yang memiliki kedarkedai kopi di berbagai daerah di Indonesia.

Covid-19 menuntut kita beradaptasi pada banyak hal termasuk para petani dan pengusaha kopi. Pemerintah Indonesia melalui KemenkopUKM menyarankan pada para petani kopi agar tergabung dalam berbagai koperasi agar terlindung dari sisi pasar. Koperasi akan menjadi Off Teker (pembeli barang) agar hasil panen tidak terkesan sia-sia. Tentu saja hal tersebut menguntungkan bagi petani kopi yang daerahnya terdapat koperasi atau sebelumnya telah terbentuk koperasi.

Pembangunan sistem jaringan akibat dampak pandemi virus corona memberikan gambaran lain pada 1,3 juta petani kopi di Indonesia dan secara spesifik di Flores untuk mulai belajar berbagai hal baru dalam usaha kopi agar dapat bertahan. Usaha kopi yang sebetulnya mulai memberikan dampak positif bagi mereka, kita harus sedikit mengalami penundaan komoditi yang harus dijual.

Lain hal lagi bagi teman-teman muda, khsususnya dari NTT yang menyebar di berbagai kota di Indonesia yang sedang merintis usaha kopi dari bawah. Dampak paling serius dirasakan oleh Edo seorang pemuda dari Manggarai sekaligus pemilik Kopi Flats yang bertempat di Johar Baru Jakarta Pusat dan teman-teman adalah usaha mereka harus puas menahan harapan untuk

mengembangkan usaha mereka di tengah pandemi. “Kami baru buka dua bulan, eh tau-taunya

sudah muncul virus corona, yah terpaksa harus ditutup lagi.” Begitu ungkap Edo.

Tentu ada sekian banyak Edo di luar sana yang tidak sempat kami temui dan mengajak bicara. Atau sekian banyak orang-orang seperti nana Yansen di NTT yang kehilangan harapan ketika kopi di lumbung menumpuk dan tak tahu harus dijual ke mana. Tentu saja pada tahap seperti ini, satu-satunya yang kita punya adalah harapan untuk tetap bertahan.

Motivasi-motivasi kecil tentang berbagai kegelisahan itulah menciptakan semangat bagi kami teman-teman muda dari Garda NTT guna menyelenggarakan salah satu kegiatan dengan tajuk, Nusa Tenggara Coffee Week. Menghadirkan petani kopi dari Bajawa dan para penggiat

kopi yang lain dari NTT yang sedang merintis usaha di Jakarta merupakan upaya kami untuk terus mendorong teman-teman pengusaha muda dari NTT.

Usia di antara 23-27 tahun membuat kami yakin bahwa kami terlalu muda untuk menyerah pada keadaan. Kami sudah terlalu banyak melihat kegelisahan, dan ini adalah saatnya mengambil tanggung jawab guna membangun NTT meskipun dari Jakarta. Kegiatan Nusa Tenggara Coffee Week dengan tema, “Merawat Kopi, Merawat Ikatan dan Merawat Hidup”

merupakan satu kesatuan simpul yang mengikat berbagai kehidupan lokal di NTT ada ikatan yang kuat antara manusia dan pekerjaan-pekerjaannya. Salah satunya adalah kopi.

Kegiatan yang berlangsung pada 8 Desember 2020 di Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan RI ini juga selain berusaha mendukung dan menghidupkan Kembali semangat mejawab situasi pasar kopi global hari ini, ruang produktif ini yuga menjadi ruang sharing dari petani kopi kepada teman-teman muda yang sedang menempuh pendidikan agar dapat mengambil bentuk tanggungjawab pada daerah, juga merupakan motivasi bagi teman- teman muda agar kembali ke daerah dan membangun ekosistem kopi yanh baik guns merambah sampai ke berbagai belahan dunia. Harapan yang bisa diberikan dari kegiatan ini adalah upaya mendukung seluruh petani kopi NTT agar terus bertahan dan berusaha di dalam keadaan apapun. Sebagaimana kami mendalami hasil kegelisahan kami malam pada saat manggagas kegiatan sebulan yang lalu. Merawat Kopi, Merawat Ikatan , Merawat Hidup. (Rustam)