Guru ABK Berhasil Buat Karya Seni Dari Kardus, Menjadi Layak Dipamerkan

Guru ABK Berhasil Buat Karya Seni Dari Kardus, Menjadi Layak Dipamerkan

Prosatu.com Jakarta – Beberapa kalangan pendidik mengajak para anak berkebutuhan khusus (ABK) mengeksplorasikan karya seninya pada bahan daur ulang. Pemakaian pada bahan daur ulang tersebut menjadi menarik karena masyarakat beranggapan sebagai bahan yang jelek.

“Ini menjadi tantangan saya bahwa sesuatu yang sudah orang buang dan di bilang jelek serta tidak terpakai, tetapi bagi saya ini merupakan tantangan agar bisa memantaskan ini menjadi sebuah karya seni yang layak diapresiasi,” ujar Guru ABK, Toto di Galeri Hadiprana Kemang Jakarta, Sabtu (23/2/2019).

Menurut dia, karya-karya seperti ini dapat menggabungkan dengan kardus-kardus bekas lalu di hias, kemudian ditampilkan sebuah frame yang warna-warni lalu pada akhirnya sebagian masyarakat tidak mengetahui kalau medianya itu dari barang-barang bekas atau barang-barang yang sudah dibuang.

“Untuk karya saya sendiri ada delapan dari karya yang seperti ini ada yang dari kardus dan jas hujan. Dari jas hujan kemarin itu sempat dipamerkan dari karya seninya,” kata Toto.

Sedangkan, kalau yang modern sekarang harus mempunyai ‘social impact’ jadi dirinya kepengin di situ ada penonton lewat karya seorang seniman yang ingin berinteraksi terhadap karya seni jas hujan.

“Ini bisa dipakai untuk foto-foto selfie di seri ini, karena misi kesenian saya adalah berbagi keindahan dan kebahagiaan melalui seni. Jadi Saya pengen orang yang menikmati bisa ikut merasakan bahagia bersama orang lain dengan desain yang dibuatnya,” ungkap Toto.

Dia bercerita, ketika pengalaman kerja ke Jepang, saat menjadi pembicara dalam satu forum internasional Jepang, untuk seni anak disabilitas dirinya melihat di Jepang itu mereka tidak lagi mendidik pada anak-anak kebutuhan khusus, tapi lebih ke caranya bagaimana supaya karya mereka layak diterima dan dapat diapresiasi dengan baik.

“Tantangan bagi seorang seniman seperti saya, harus bisa mengangkat karya-karya yang tadinya nggak mungkin dipikirkan banyak orang-orang, dan tidak dipedulikan menjadi sebuah karya seni yang diperhatikan, dan diperhitungkan,” ucap Toto.

Sehingga menurut dia, pihaknya juga mendidik anak-anak buat pancingannya, seperti itu. “Jadi anak-anak, saya suruh coret-coret apapun, kemudian dari coretan anak-anak di barang bekas ini angkanya saya tampilkan menjadi bentuk karya yang layak dipamerkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Pelukis dan Guru Seni, Weye Haryanto mengatakan, pameran sekarang ini bertemakan “berbeda tapi satu” artinya adalah berbeda ini kan Hadiprana Mitra, Hadiprana itu tempat pendidikan seni rupa, seni lukis yang guru-guru pengajarnya berbeda-beda.

“Berbeda-beda dalam arti tak ada yang dari seni saja, tetapi dari berbagai latar belakang pendidikan mereka yang berbeda. Jadi secara teknik mereka berbeda, tetapi melebur menjadi satu di Mitra Hadiprana. Itu tema dari pameran hari ini tentang lukisan saya,” ucap Weye.

Tadi telah dirinya utarakan bahwa, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya Bung Karno, yakni founding fathers beliau adalah proklamator yang memerdekakan Indonesia yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang berdaulat sampai hari ini.

Anak-anak sekarang banyak yang sudah tidak mengenal sejarah para pahlawannya atau para pahlawan. Oleh karena itu, ungkap Weye, sebagai guru ada semacam beban moral atau tugas moral untuk memperkenalkan kembali pahlawan-pahlawan ini loh dari Indonesia yaitu orang-orang yang berjasa untuk negeri ini.

“Pameran untuk karya saya juga ini ada yang berukuran 9 x 3, berarti ada 27 ya. Ini berbagai macam gaya saya, ada yang realistis, ada yang ekspresionis, abstrak, dekoratif, seni terapan, juga ada beberapa setiap tahun sekali untuk Hadiprana, ada pameran untuk anak didik atau fungsi bagai anak-anak tentu saja mereka ingin ditampilkan,” pungkasnya.